SHINTA TEST KEPERAWANAN

Usai sudah peperangan yang merenggut korban ribuan bala wanara, para satria dan para raksasa-reksasi. Usai sudah puncak kisah kehidupan mereka yang akan dikenang maupun yang akan terlupakan. Betapa hidup hanyalah satu hela nafas yang terlalu dilebih-lebihkan.
Kemenangan difihak Ramawijaya, titisan Wishnu. Putra tunggal prabu Prabu Dasarata dan Dewi Kausalya. Alengkadirja musnah dalam kobaran api peperangan. Dasamuka alias Rahwana tak lagi berkuasa, dan ras para raksasa menemui binasa.
***

Beberapa bulan kemudian di Ayodya…

Altar pembakaran, api berkobar-kobar, wajah cantik Shinta menatap kobaran api tanpa rasa takut namun juga tanpa angkuh yang menantang. Semua ini demi cinta, batinnya.

Walau kesetiaan tak diragukan, namun kesucian perlu ujian. Sang Prabu Ramawijaya menitahkan Shinta untuk menjalani uji kesucian dengan menceburkan diri dalam api “Buktikan, buktikan pada para warga dan dunia, bahwa tubuhmu sama sekali tak terjamah dan keperawananmu masih terjaga. Ketahuilah wibawa sebuah bangsa ada pada perempuannya dan engkaulah sosok panutan para perempuan negri Ayodhya”

Maka begitulah terkisahkan, dihadapan seluruh kawula Ayodya, Shinta melangkah tanpa ragu menuju kobaran api. Begitu pula terkisahkan, hingga kobaran api habis tak bersisa, tubuh Shinta tetap utuh. Seutuh senyuman dan selaput daranya.

Namun begitulah selalu ada yang tak terkisahkan. Tak ada yang mengisahkan kebimbangan Hanoman, ksatria luhur budi berujud kera putih suci. Dia yang paling berperan penting dalam penaklukan Alengka, dia yang memendam sang Dasamuka jauh dibawah dataran dunia, menghunjamnya ke perut bumi. Sebab Dasamuka memiliki ajian Pancasona yang membuatnya tak bisa mati selama masih bersentuhan dengan tanah, maka menguburnya dalam-dalam adalah pilihan paling tepat yang bisa dilakukan Hanoman saat itu.

Sejak perang besar itu, sang ksatria luhur budi merasa ada yang salah dengan penglihatannya. Dia coba untuk mengabaikan keanehan demi keanehan dalam penglihatannya. Namun hari ini dia melihat hal itu kembali. Seperti fatamorgana yang terasa nyata. Mengherankan bagi Hanoman, hari ini dia melihatnya dalam diri Shinta dan kemudian semakin jelas sejak Shinta muncul kembali dari kobaran api maha dahsyat itu. Apa ini? Karena ketajaman mata batin? Ataukah karena trauma perang yang berkepanjangan? Hanoman semakin bingung.
***

Kemudian masa-masa tenang….

Kawula Ayodya merasa riang gembira, tentu tak ada yang lebih membangga bahagiakan daripada memiliki raja dan permaisuri yang ideal. Raja yang tampan rupawan, bersifat satria bijaksana dan permaisuri yang entah bagaimana tetap menjaga kesuciannya ditengah dahsyatnya peperangan. Tiga belas tahun kawula Ayodya menanti kembalinya sang raja dan permaisuri mereka dari pembuangan di hutan Dandaka. Selama itu, pemerintahan sementara dipegang oleh Adik tiri Rama yaitu Barata.

Transformasi kekuasaan tentu bukan hal mudah, prabu Barata sudah menyiapkan laporan-laporan berkaitan dengan kondisi social-politik ekonomi, keamanan dan kebudayaan Ayodya selama kurun waktu tersebut dalam bentuk berjilid-jilid lontar yang musti dipelajari oleh Prabu Ramawijaya dalam waktu sesingkat mungkin.
“ampun Kanda Prabu, sikap kakanda yang menguji kesucian Shinta tempo hari ternyata mengundang protes para aktivis perempuan” berkata Barata suatu kali, ketika itu Rama sedang mempelajari laporan eksport-import negri Ayodhya “mereka berkata ini adalah suatu ketimpangan gender yang disahkan oleh kebijakan Negara, bahwa kebijakan Negara kita terlalu patriarkhis dan mengesampingkan hak-hak kaum perempuan” lanjut Barata. “oh, jadi sekarang ada aktivis perempuan adik Barata?” Tanya Rama, sambil masih konsentrasi pada tumpukan laporan dihadapannya.

“Iya kakanda, selama tiga belas tahun kakanda Rama, kakanda Leksmana dan kakanda Shinta dihutan Dandaka, dunia sudah banyak berubah. Ideology-ideologi asing, seperti pluralism, HAM, demokrasi, sosialisme dan kesetaraan gender sudah masuk dan banyak membantu serta memberdayakan masyarakat kita. Namun ya tentu saja, selalu ada saja hal-hal yang bertentangan dengan kebijakan kita yang menjadi bahan protes mereka” terang Barata.

“adik Barata, begitu cepat dan begitu banyak perubahan dalam tiga belas tahun rupanya. Baiknya adik Barata jelaskan pada kakandamu ini tentang hal-hal tadi” Rama mulai teralihkan, keingintahuan cepat merambat memang pada fikiran yang terang.
Maka mulailah Barata menjelaskan peta ideology, sejarah, latar belakang filsafati serta fenomena kajian ideology-ideologi satu persatu lengkap dengan tokoh-tokohnya.

“nah begitulah Kanda prabu, secara singkat seperti itu dulu” otak Ramawijaya memang otak dari benih unggul yang dengan sangat mudah menyerap itu semua. Kecerdasan sang prabu tak perlu diragukan, namun keheranan justru berseliweran seperti roh penasaran yang menggerayangi gelap malam dihatinya “tapi adik Barata, bukankah tanpa istilah-itilah njelimet itu tadi kita sudah berupaya memenuhi rasa keadilan setiap warga? Bukankah tanpa istilah pluralism itu tadi kita sudah menjamin kebebasan beragama setiap individu kawula Ayodya? Lalu demokrasi? Itu sekedar mendengar suara rakyat? Bukankah dulu Kanda ajarkan pada adik tentang Hastabrata? Jangankan sekedar suara rakyat yang bangsa manungso dik, kita sebagai pemerintah dituntut untuk mendengarkan suara tuntutan sepuluh unsur alam. Sepertinya negri asal demokrasi itu belum sampai maqam peradabannya pada maqam kita dik? Jelaskanlah pada mereka saja”

“aduh tidak sesederhana itu kanda prabu, tapi ah sudahlah. Yang penting ini coba lihat kanda prabu” Barata kemudian menunjukkan beberapa media massa nasional maupun internasional dengan headline:

‘Timpang Gender, Test Keperawanan Tetap Dijalankan di Ayodhya’

‘Ayodhya, Wajah Patriarkhi yang Ketinggalan Zaman’

‘Ujian Kesucian Shinta, Potret Hegemoni dan Dominasi Pria Atas Kebebasan Tubuh Perempuan’

“lalu kenapa memangnya adik Barata? Mereka kan cuma menulis, itu hak mereka. Lagipula ujian test keperawanan eh kesucian yang dijalankan dinda Shinta tempo hari itu kan juga atas permintaan kawula Ayodhya, bukankah itu malah, apa itu tadi istilahnya? Demokratis? Iya, bukankah kita malah demokratis?” heran Prabu Rama menjadi gemas.

“nah masalahnya, dalam artikel-artikel ini, warga Ayodhya disebutkan belum memiliki kepekaan akan kesetaraan gender kanda prabu. Ini menjadi citra buruk bagi rezim pemerintahan kanda prabu nantinya dimata internasional dan itu akan berpengaruh pada hubungan per…”

Tiba-tiba Leksmana datang, membawa kabar “kakanda Prabu, diluar beberapa warga menggelar demonstrasi”

“apa tuntutan mereka dik Leksmana?”

“mereka menutut test keperawanan kakanda Shinta diulang”

“kenapa begitu? Yang tempo hari apa tak cukup meuaskan hati para warga?”

“soalnya mereka mendengar kabar bahwa mbakyu Shinta sedng hamil, mereka takut kalau bayi yang dikadung kanda Shinta adalah bayi Rahwana atau setidaknya tercemar benih Rahwana”

“hmmmmmm…. Masuk akal”

“Lhoh kanda Rama akan mengabulkan tuntutan itu? Kenapa tidak suruh para warga menunggu sampai bayi lahir baru kemudian kita adakan test DNA” serobot Batara

“iya iya, tapi permintaan mereka cukup masuk akal” timbang Sang Prabu

“lho tapi sepertinya yang meminta seperti itu cuma segelintir warga koq kanda Prabu, tak usah diambil pusing benar” sergah Batara

“bukan soal berapa banyak jumlah orang yang memintanya dik, tapi apa isi permintaan itulah yang lebih penting. Seorang permaisuri yang liang farjinya pernah disentuh oleh raja dari negri lain, maka benih-benih dendam akan bersemayam dalam dirinya. Maka itu seorang raja harus memiliki permaisuri yang terjamin kesuciannya, sebab kharisma dan kewibawaannya ada pada sang permaisuri, sedang kewibawaan raja adalah kewibawaan seluruh negri” Sang Prabu menutup pembicaraan.
Prabu Ramawijaya sebenarnya hendak meminta pertimbangan dari anak angkatnya, Hanoman, namun sang ksatria kera putih itu belakangan makin jarang terlihat dilingkungan kraton. Lebih sering berkeliling, berdiam diri dan tampak seperti orang linglung eh kera linglung.

Prabu Ramawijaya tak mengalami, dan tentu tak memahami kemelut Hanoman dengan derita gangguan penglihatannya. Apa yang dilihat sang Hanoman kini membuatnya bingung dan makin ketakutan. Bayangkan, seorang satria putra para Dewa dengan gelar-gelar terhormat; ya Bayusiwi, ya dialah Anjaniputra juga Guruputra, dikenal juga Yudawisma atau Senggana. Dia yang memiliki aji Pameling, ajian Sepiangin dan aji Mundri rupanya tak lepas dari rasa cemas dan khawatir bahkan ketakutan. Ketakutan itu makin menjadi-jadi manakala Hanoman bertemu dengan orang lain, dan belakangan bila bertatap mata dengan Shinta.
***

Genap tiga bulan usia kehamilan Shinta

Ketika Prabu Ramawijaya memutuskan untuk kembali menguji kesucian istri tercinta. Keputusan itu membuat kontroversi diantara kawula Ayodhya. Tentu saja aktivis perempuan dan aktivis-aktivis lain meradang. Segra demonstrasi mewarnai hari-hari di Ayodhya. Kampanye tentang keseimbangan gender makin gencar, kebijakan dibedah diacara-acara diskusi dan menjadi perdebatan dimedia massa yang -sesuai kodratnya- memang selalu menyenangi perdebatan.

“kami tentu menyayangkan kebijakan Prabu Ramawijaya, ini sudah tidak masuk akal. Bagaimana mungkin seorang wanita hamil akan kembali ditest kesuciannya, kan jelas-jelas dia sedang hamil ya pasti sudah ndak perawanlah! Lagipula, coba bayangkan itu Shinta kan diselamatkan dengan susah payah dari cengkraman Rahwana! masak sekarang setelah didapatkan malah harus diuji. Kami sebagai pembela hak-hak kaum perempuan tidak terima! Ini namanya cinta yang bersyarat! Coba Sang Prabu itu berfikir ya, kenapa keperawanan wanita selalu dipermasalahkan sedang keperjakaan pria ndak pernah jadi soal? Tidak adil ini! Tidak adil!” begitu salah seorang aktivis berkoar-koar disebuah siaran televisi.

Barata semakin tegang, televisi dimatikan sebelum emosi sang aktivis perempuan makin memuncak ”Kanda prabu! Hancur nama baik rezim pemerintahan kanda Prabu kalau begini jadinya! Adik mohon kanda prabu batalkan keputusan itu!”

“Lhoh? Dik Batara ini bagaimana? Sabdo pandito ratu, ucapan raja tak mungkin dicabut dik! Lagipula ndak usah khawatir soal pencitraan, itu sudah resiko kita sebagai pemegang tampuk pemerintahan”

“Tapi kanda Prabu apa tidak dengar serbuan pertanyaan dan pernyataan bertubi-tubi kayak tadi? Itu akan berlangsung terus menerus kanda prabu dan akan mengganggu stabilitas politik kita!”

“adik Batara tenangno ati lan pikirmu, aku rasa pertanyaan tadi toh salah alamat koq dik. Mosok nanya ke raja kenapa keperawanan yang selalu dipersoalkan dan bukan keperjakaan? Lha ya harusnya nanya ke tuhannnya masing-masing to dik? koq menciptakan selaput dara bukan selaput perjaka? Lagipula itu, dengan menguji kesucian Shinta itu membuktikan bahwa kita tak selalu harus menerima mentah-mentah apa yang sudah kita perjuangkan dik. Ada kalanya kita harus berfikir ulang tentang apa yang kita perjuangkan selama ini, apakah perjuangan kita masih selaras dengan kehendak semesta ataukah hanya sekedar karena sudah kadung susah payah memperjuangkannya saja jadi terasa benar?”

Batara makin panik bahkan sampai tidak bisa tidur, Leksmana seperti biasa selalu tenang dan meyakini keputusan kakaknya sedangkan Hanoman tetap dengan kecemasan akibat dari gangguan penglihatannya. Shinta selalu bungkam dan diam, posternya diarak dan dijadikan symbol perlawanan kaum feminis.
Hari itu setelah meditasi panjang dan dalam menyelami samudera batin, Prabu Ramawijaya memutuskan bahwa Shinta sekali lagi harus membuktikan kesuciannya dengan dibuang kehutan.

Shinta yang anggun, dengan tenang menerima keputusan. Berjalan pelan, memasuki hutan Dandaka. Para aktivis makin beringas, demonstrasi makin mengarah kepada aksi kekerasan. Namun berkata Shinta dengan disorot oleh kamera siaran langsung “saya harap seluruh warga Ayodhya tidak terprovokasi, ini hanyalah ujian kecil bagi seorang istri. Masih banyak perempuan-perempuan diluar sana yang bernasib lebih buruk, lebih baik kalau energy teman-teman semua tidak dihabiskan untuk sekedar persoalan saya tapi justru untuk memberdayakan para perempuan yang masih terbelakang hidupnya dalam alam yang sangat patriarkhis ini”

Ayodhya memang kembali tenang, hanya tangis para perempuan meyertai kepergian Shinta. Tapi justru sesungguhnya dukungan terhadap Shinta makin bulat dan menguat. Pergerakan mendukung Shinta kini lebih solid dari pergerakan manapun di Ayodhya. Hanoman yang menyaksikan juga kepergian Shinta terkejut, nafasnya seperti terhenti, wajahnya pucat pasi. Alih-alih teharu satria berbudi luhur ini malah makin diserang kecemasan dan ketakutan. Matanya membelalak, tubuhnya bergetar hebat, bulu-bulu putih keperakan disekujur tubuhnya merinding “cukup Gusti! Satu saja sudah sangat merepotkan duh Gusti cukup Gusti…. Ku tak sanggup Gusti….” Hanya itu kalimat yang keluar dari mulutnya. Lalu Hanoman sang satria luhur budi, memasuki liang sepinya. Memutuskan untuk dirinya sendiri menanggalkan segala atribut keprajuritan dan menjadi pertapa yang tak bersentuhan dengan dunia. Dunia telah membuatnya putus asa. Dunia hanya menyimpan kecewa bagi yang benar-benar melihatnya. Hanoman mengganti nama menjadi Rsi Mayangkara dan berdiam di pertapaan Kendalisada.

Sementar itu, gambar potret wajah Shinta semakin laris manis dipasaran. Dengan segra menjadi symbol pemberontakan terhadap budaya patriarkhi. Warga Ayodhya yang sebenarnya baik hati namun terlalu polos juga dengan segra makin bersimpati pada Shinta. Kini, wajah Shinta terpampang berjajaran dengan tokoh-tokoh lain seperti Che Guevara, Munir, Malcolm X, Soe Hok Gie (yang sering tertukar dengan Nicholas Saputra padahal ndak mirip), John Lennon, Ho Chi Minh, Soekarno, Mao Tse Tsung dan lain-lain macam tokoh-tokoh itu. Beberapa selebritis bahkan pernah mengeluarkan pernyataan dukungan atau sekedar bahwa terinspirasi dari kisah hidup Shinta yang dianggap sangat mengenaskan namun tetap tabah itu.
Beberapa orang menyematkan kalimat seorang pujangga pada gambar potret Shinta di baju-baju kaos mereka;

“Karena ketamakan berahi laki-laki. Perempuan kemarin adalah pelayan yang bahagia tetapi perempuan hari ini adalah nyonya yang nestapa (Gibran dalam Sayap-Sayap Patah)

***

Tujuh tahun melewati rindu yang senyap, seorang raja adalah dengan kesendiriannya…

Rindu terlalu, tak sudi berlalu menusuk-nusuk qolbu. Kenangan akan wajah Shinta yang anggun, lirih suaranya yang bagai seruling surgawi menghantui malam-malam sulit tidur Prabu Ramawijaya.

Prabu Ramawijaya nampak cepat menua, entah karena beban pemerintahan ataukah karena tidak ditemani pasangannya yang paling dicintai, Shinta terkasih.
Hari itu mentari bersinar cerah di Ayodhya ketika dua bocah memasuki halaman kraton. Mereka mengaku sebagai saudara kembar, pewaris sah dari tahta prabu Ramawijaya. Bahwa merekalah putra Shinta yang sedang dalam masa pembuangan di hutan Dandaka. Dipanggillah dua bocah menghadap sang Prabu Ramawijaya.
“perkenalkan nama kalian, dan apa urusan kalian kemari wahai bocah?” Tanya sang Prabu.

“Ampun romo prabu, nama saya Ramabatlawa dan ini adik saya Ramakusya. Kami ini adalah putra kembar romo prabu sendiri. Selama ini kami hidup sederhana dihutan Dandaka. Namun darah yang mengalir pada tubuh kami menyimpan rindu pada Romo yang belum pernah kami temui”

“Anak pintar, tutur bahasamu halus dan tak berbasa-basi khas kasta satria. Siapa yang mendidikmu bersikap seperti ini?”
“Ampun romo prabu, sejak lahir kami dibesarkan oleh bunda. Shinta nama ibu kami dan kami diajarkan ilmu kearifan dan kebijaksanaan oleh Rsi Walmiki yang bijaksana”

“Bocah, namun tak ada bukti yang bisa menguatkan pengakuanmu”

Ketika itu Barata mengusulkan untuk diadakan saja test DNA. Namun Ramabatlawa dan Ramakusya tiba-tiba melantunkan tembang-tembang tentang kisah cinta Rama dan Shinta. Sang Prabu lantas terbawa pada aroma masa lalu, pada gairah masa muda yang tak kan kembali, pada kekasih tempat rindunya berlabuh. Air mata sang prabu menitik, betapa masa lalu adalah kampung halaman yang tak kan pernah lagi terjamah.
“cukup! Aku percaya! Aku percaya…”

Sang prabu turun dari tahta dan memeluk dua putra yang baru sekali ini ditemuinya. Bahkan seorang prabu tak mampu menyembunyikan rindu pada darah dagingnya sendiri.

Tanpa berfikir panjang, Prabu Rama mengutus prajurit untuk menjemput Shinta dari hutan Dandaka. Rasa rindu yang begitu rupa tak lagi kuasa ditahannya, masa pembuangan Shinta dicabut. Shinta dipanggil pulang ke Kraton Ayodhya.
***


Seorang wanita dan helai langkah rindu, ledakan maha dahsyat menyambut…

Diluar dugaan, kedatangan Shinta disambut dengan gegap-gempita oleh para aktivis perempuan. Entah dari mana mereka mendengar berita tentang kedatagan Shinta dan entah sejak kapan mereka memobilisasi massa. Entah, yang pasti sejak langkah pertamanya menginjak batas Negara Ayodhya, massa telah berkumpul dan terus bertambah seiring langkahnya mendekati kraton Ayodhya. Tubuh Shinta sedikit lebih kurus, pakaiannya bukan lagi kain-kain mahal khas permaisuri kerajaan, namun berganti jubah putih lusuh menjuntai berkibar-kibar. Rambutnya yang makin panjang, tetap menyerbakkan wangi dan wajahnya tetap secantik dulu walau sedikit pucat. Namun tatapannya datar, dingin tanpa emosi. Dia hanya melangkah dan menatap lurus kearah kraton Ayodhya. Selangkah demi selangkah dia berjalan menuju kraton Ayodhya dan tiap langkahnya bertambah pula jumlah massa yang mengikuti berjalan dibelakangnya. Ini semua demi cinta, lirihnya.

Setibanya dihalaman kraton, Shinta telah bersama jutaan warga Ayodhya. Prabu Ramawijaya sudah sejak sedari tadi menanti kedatangan kekasih hatinya dihalaman kraton. Namun saat Shinta sudah terlihat Sang Prabu merasakan keganjilan dari dinginnya tatapan Shinta. Sesaat mereka bertatapan, sebilah tatapan mata kekasih bukanlah perhitungan waktu dunia yang sedang berjalan. Baru saja Sang Prabu menyingkirkan keheranannya dan baru akan segra meraih memeluk tibuh Shinta ketika berujar Shinta, disaksikan jutaan warga Ayodhya. Suaranya membahana, gemanya pecah dilangit.

“Bila tubuhku ini pernah sebelumnya dijamah oleh Rahwana. Biarlah tubuhku tak akan diterima oleh bumi pertiwi”

Sebuah geledek menggelegar memekakkan telinga seolah menyambut kata-kata itu, padahal hari sedang cerah tak berawan. Tubuh Shinta memang belum pernah terjamah oleh Dasamuka alias Rahwana, maka kata-kata bertuah itu terjadi berkebalikan, tanah berguncang hebat, kemudian daratan membelah tepat dibawah kaki Shinta. Bumi pertiwi menelan tubuh Shinta yang bahkan belum sempat didekap oleh sang prabu. Sang Prabu tak bergeming menyaksikan fenomena alam itu. Tertegun akan hal yang baru saja disaksikannya. Sekejap lalu, baru saja rindunya akan terobati namun sekejap kemudian Shinta sudah menghilang ditelan bumi. Benar-benar ditelan bumi, bukan metafor untuk memperindah kisah, namun memang Shinta ditelan bumi.

Massa yang membludak sejak tadi tiba-tiba mengamuk, menerjang aparat, memprotes ketidak adilan yang mereka saksikan. Massa merasa apa yang menimpa Shinta sangat tidak adil, dan itu semua karena budaya patriarkhi di kerajaan Ayodhya yang tetap dipertahankan. Merekapun beraksi tumpah memenuhi dan mengepung kraton Ayodhya. Sekejap revolusipun tak berbendung.

Demonstrasi besar-besaran terjadi siang malam, jutaan warga berkumpul di Alun-Alun menghujat pemerintah, mencari ribut dengan aparat. Bahkan semakin hari kerusuhan tak terbendung. Aksi massa mulai mengarah pada pengrusakan property pribadi, penjarahan dan pelumpuhan instansi-instansi Negara. Pemerintahan prabu Ramawijaya berada dalam masa kritis selama beberapa bulan hingga akhirnya, Prabu Ramawijaya mengumumkan pengunduran dirinya. Beliau menyerahkan Ayodhya pada Ramabatlawa dan kerajaan Mantili warisan dari ayahanda Shinta pada Ramakusya.

Sang Prabu telah memutuskan untuk menjalani kehidupan sebagai petapa dan pada saatnya nanti mengakhiri hidup dengan pati kobong. Namun sebelum itu, satu pertanyaan masih mengganjal dihatinya hingga diputuskannya untuk mengunjungi Rsi Mayangkara di Kendalisada, anak angkatnya sendiri yang dulu dikenal dengan nama Hanoman. Apa yang sebenarnya dilihat oleh Hanoman bertahun-tahun silam? Apa sebenarnya yang membuat Kera Putih itu undur dari dunia para satria dan menjadi petapa di Kendalisada?

Sang Prabu mantap melangkah menuju Kendalisada, jubah kerajaan telah ia tanggalkan berganti jubah putih kaum petapa. Rsi Mayangkara telah menanti didepan petilasannya, mempersilahkan sang prabu masuk dan terjadilah pembicaraan yang menguak rahasia kecemasan sang satria Hanoman bertahun-tahun lalu.

“romo Prabu, tak usahlah berbanyak kata. Aku telahpun mengetahui maksud kedatangan Romo. Ketahuilah Romo, bahwa sejak pertama kali ananda hujamkan tubuh Dasamuka ke perut bumi ananda sudah mengetahui bahwa hal ini pasti terjadi pada kerajaan Ayodhya yang telah Romo pertahankan dengan segenap tenaga. Ketika Dasamuka sudah tak lagi terlihat batang tubuhnya di atas dunia, sejak itu ananda melihat setiap wajah menjadi wajah Rahwana. Mengerikan Romo, sungguh mengerikan. Butuh waktu berbulan-bulan bagi anada untuk mengetahui bahwa Rahwana ternyata bukan sekedar terkubur dibawah tanah tapi juga menanamkan benih ide dibawah dataran bawah sadar peradaban ini. Tapi sungguh yang tak ananda sangkakan adalah wajah Shinta yang begitu benar-benar jelas menyerupai Rahwana. Maka setelah kejadian ini tahulah anada bahwa apa yang terjadi sesungguhnya sudah direncanakan dengan baik oleh mereka berdua” Hanoman alias Rsi Mayangkara diam sejenak, membiarkan Sang Prabu mencerna dengan baik kata-katanya atau sekedar berdamai dengan kepahitan yang nyata ini.

“mereka berdua? Maksudmu…”

“Yasudah barang tentu, Rahwana dan Shinta romo prabu. Entah sejak kapan rencana itu terus bergulir, konspirasi perselingkuhan yang dahsyat. Rahwana mengesankan dirinya sedang kalah, tapi diam-diam menanamkan benih permusuhan dan perpecahan pada segenap warga Ayodhya. Sedang Shinta menjalankan peran sebagai wanita tak berdaya, mendapat simpati dari berbagai kalangan. Mereka hanya menanti waktu untuk kembali bertemu dan bersatu ummmmm….”
“Bersatu?”

Diam sejenak, canggung Rsi Mayangkara melanjutkan kata-katanya
“Iya romo, bukankah romo sendiri tahu bahwa Rahwana tak akan bisa mati karena ajian Pancasona? Maka saat itu ananda hanya menimbunnya jauh didalam tanah, sedangkan kemanakah Shinta pergi setelah mengucapkan kalimat pembuktian kesucian tubuhnya? Bukankah keperut bumi juga? Nah, disanalah mereka kembali bersatu Romo, didalam perut bumi. Sedangkan Rahwana dari dalam perut bumi sejak bertahun-tahun merasukkan kemarahan, dendam dan perpecahan juga niat baik yang reaktif pada penduduk bumi. Disitulah kuncinya romo, Rahwana menebar benih rasa benar diri pada warga Ayodhya sedang Shinta menjadi korban yang mereka sangka sedang mereka bela ”

Seperti ledakan geledek disiang bolong, Prabu Ramawijaya menginsyafi kekeliruannya. Termasuk dalam menguji kesucian Shinta yang hanya berpatokan pada kesucian lahiriyahnya saja. Tentu, Shinta memang tak pernah disentuh tubuh apalagi keperawanannya oleh Rahwana, namun sesungguhnya hatinya telah tertambat pada raja Alengka itu. Apa yang selama ini dilakukannya, tak lebih dari agenda-agenda Dasamuka yang sudah diatur dengan bersama Shinta di taman Argasoka, tempat Shinta ditawan di Alengka. Sejak memenangi perang melawan Alengka sesungguhnya sejak itu pulalah kekalahan Sang Prabu dimulai dan justru hitungan mundur menuju kehancuran Ayodhya pun bermula.

Ragu, Ramawijaya mengutarakan tanya “dan katakan padaku, apakah kau juga melihat benih-benih Rahwana pada diriku?”

Rsi Mayangkara tersenyum “ampun beribu ampun romo Prabu, justru pada paduka hal itu ananda lihat pertama kali, tapi samadhi romo prabu rupanya tak membiarkan virus benih Dasamuka pada diri Romo Prabu berkembang, apalagi hingga menguasai diri paduka. Namun memang,semakin hari semakin kuat benih Rahwanaisme itu berusaha menguasai Romo Prabu. Maka bila memang keputusan Romo Prabu untuk mengakhiri kisah hidup Romo hingga disini, ananda ikhlas. Karena itu lebih baik daripada kesaktian yang Romo prabu miliki dimanfaatkan oleh kekejian Rahwana yang ingin bertumbuh kembang dalam diri paduka. Namun sukma Sang Hyang Wishnu belum selesai tugasnya, sukma Wishnu paduka akan menitis kembali pada satria-satria penjaga keseimbangan semesta yang masih akan lahir dimasa-masa mendatang”

Dua sahabat dan sekaligus ayah-anak angkat itu berangkulan, berpamitan satu sama lain merelakan segala kenangan saat masa jaya dan peperangan-peperangan terdahulu yang telah dilalui bersama. Ada perjalanan, kisah petualangan dan peperangan dahsyat dimana merekalah tokoh utamanya. Namun sekarang mereka harus menjauhi itu semua, gemerlap sebagai lakon utama dari kisah. Mereka musti merelakan lalunya masa lalu dan menatap kepada masa depan yang tak lain hanya kematian. Bulat sudah tekad Prabu Ramawijaya mengakhiri hidupnya dengan pati kobong.
***

Maka…

Disebuah hutan tak bernama, seorang raja menyusun dengan tangannya sendiri tumpukan kayu kering menggunung, menyulutunya dengan api dan menceburkan diri kedalam kobarannya. Tak ada jerit kesakitan. Seorang raja, salah satu diantara pemimpin terbaik yang pernah dimiliki Ayodhya bahkan mungkin dunia, menjemput ajalnya dalam sepi, terasing dan hati yang tercabik remuk. Bahwa dia telah gagal menyelamatkan kerajaannya dari kehancuran perpecahan, dan sakit yang lebih dahsyat adalah cinta yang terkhianati. Tak ada jerit kesakitan.

Seorang raja teragung, menjemput ajalnya tanpa satupun gelar kehormatan, tanpa nisan penanda makamnya bahkan tanpa jeritan. Tak butuh waktu lama untuk kobaran api yang tadinya merah menyala kemudian berangsur padam menyisakan asap dan abu belaka. Sungguh seperti itulah rupa hidup manusia. Abunya segra diterbangkan angin yang keemasan dalam baluran senja yang pun tak lama segra sirna.
seorang raja adalah dengan kesendiriannya…

***

Sedang di Ayodhya, di permukaan dunia yang tampak…

Mundurnya Prabu Ramawijaya dirayakan besar-besaran dan meriah. Gambar Shinta diarak dan disebar ke seluruh pelosok negri Ayodhya sebagai symbol perlawanan dan revolusi. Bahwa Shinta adalah korban dari kebiadaban dunia. Bahwa Shinta adalah pahlawan tanpa pamrih. Sedang Prabu Ramawijaya dianggap sebagai dictator tiran yang otoriter, feodal dan anti-demokrasi. Pengikut-pengikutnya, mereka yang dulu sekuat hati dan tenaga menjalankan roda pemerintahan dianggap kontra revolusi, kaum status quo, keberadaan mereka disingkirkan, ditangkap dan namanya dihapus dalam sejarah perjalanan negri Ayodhya.

Pada negri yang warganya sangat baik hati dan polos, menjadi korban adalah sama dengan menjadi tokoh yang berada pada fihak yang pasti benar.
Sempurnalah pencitraan Shinta sebagai korban dari kedhzoliman dan ketidak adilan.
***

Sedang jauh didalam perut bumi
atau jauh didalam dataran alam bawah sadar zaman….

Shinta dan Rahwana melepas rindu dan berahi yang telah tertunda bertahun-tahun. Tertawa terbahak-bahak, berjingkrak-jingkrak telanjang atas keberhasilan agenda cinta terselubung itu, merayakan dengan pesta nafsu tak berkesudahan, memuncratkan gairah kesegenap penjuru. Nafsu-nafsu paling purba menjadi dewa yang mereka angkat bagi diri mereka sendiri. Lalu mereka puja.

Kepala rahwana yang tumbuh beratus-ratus itu berebut rakus menghisap putik puting susu Shinta dengan beringas. Lingga sang Rahwana akan menari-nari, bertumbuh bercabang-cabang, mengamuk menyelinap ke setiap celah di tubuh Shinta yang lentur menggeliat-geliat, lalu Lingga Rahwana akan membentur dan mengoyak-koyakkan dinding Yoni sang Shinta yang akan terus basah oleh tumbuhnya benih-benih kejahatan mereka. Setiap saat adalah malam pertama bagi Shinta dan Rahwana, setiap saat air mani sang Dasamuka menyembur melahirkan anak-anak zaman benih kebejatan dan dari liang farji sang Shinta akan terus lahir putra-putri yang ditakdirkan untuk menjadi lemah dan menjual wajah tanpa dosa, menopengkan diri pada citra sebagai korban lemah tak berdaya. Shinta tak kan peduli pada dua putranya yang kini yatim piatu dan kewalahan menjalankan pemerintahan di dua kerajaan, sebab setiap desah menjelma lenguhan kemudian menjadi raungan maha bejat dan ganas dalam tarung berahi akan melahirkan benih baru lagi dan lagi. Sedang angkara terus lahir, juga mental-mental korban yang memohon iba. Sedang Shinta dan Rahwana berpesta pora, mabuk bercinta menenggkak kepuasan senggama yang tak kan pernah terpuaskan.

Semua ini demi cinta.

Shinta untuk Rahwana, dan Rahwana untuk Shinta. Persetan dunia dan seisinya!
.
.
.
.
.
.
.

Jogja, 7-9 September 2013

Suatu Saat

Suatu saat, pusaran itu akan menghisapmu, melahapmu hingga tak bersisa. Suatu saat, hidup akan begitu melelahkan hingga sekedar untuk menlanjutkan nafas saja kau harus berjuang tanpa ujung.

 

Suatu saat, ah! tak perlu menunggu suatu saat. Memangnya seperti itulah dia, hidup adalah pertarungan, namun juga sekedar canda tawa yang terlalu sering dianggap serius. Hidup adalah kekonyolan yang selalu ingin dianggap wajar dan normal. Hidup adalah blablabla… hidup adalah blablabla…. Terlalu banyak kilasan kata-kata untuk menggambarkannya. Begitupun kau tahu sebegitu banyak kata-kata itu sekedar hambar bila berhadapan dengan kenyataan. Karena suatu saat….

 

Ya, karena suatu saat seperti sediakala. Kau akan dipenuhi tuntutan-tuntutan yang tak akan pernah dapat terpuaskan. Hingar-bingar suara makhluk bumi yang memuakkan. Gelak tawa mereka yang menjijikkan, lender-lendir kenyataan dari taring-taring buas bernanah. Tenagamu telah terkuras pada paruh pertama perjalananmu, saat itu kau sudah akan terlalu lelah untuk melawan dan bertahan.

 

Setiap petarung yang kelelahan merasakannya, keinginan utnuk berhenti melawan. Kehabisan energy, sendi-sendi lunglai, pandangan buram. Dengan apa pula kau akan melawan? Kau sendirian, sedang makhluk-makhluk bumi itu berjuta-juta tak berhingga. Saat itu, kelelahan sudah tak memberi ruang pada daulat kesadaranmu. Mereka akan menyeretmu pada jalan-jalan mereka -caracara hidup dan nilai-nilai yang mereka anut- dan mereka begitu berambisi agar kau pun menelusuri jalan itu sehingga sedikit demi sedikit kau akan menjadi seperti mereka.

 

Tentu saja, mereka adalah monster-monster kehidupan yang begitu merasa asing pada dirinya sendiri sehingga mereka merasa perlu membuat sebanyak mungkin copyan diri mereka agar mereka yakin mereka adalah makhluk yang wajar.

 

Suatu saat, kau tak bisa menghindar untk tidak menjadi seperti mereka. Kau tak dapat memilih jalan selain yang mereka pilihkan untukmu.

 

Maka sebelum saat itu tiba, buatlah sebuah jalan dengan penuh kemerdekaanmu. Jalan yang sama sekali berbeda dan memutar jauh dari pola denah para makhluk bumi. Buatlah jalan yang sama sekali tak ada mereka disana.

 

Walaupun kau akhirnya harus kalah dan menyerah lalu diseret kepada jalan mereka. Setidanya saat kau menjadi monster seperti mereka itu kau bisa berkata dengan bangga pada sejawatmu sesama monster-monster itu; bahwa engkau pernah memiliki jalanmu sediri! Bahwa engkau pernah bermimpi untuk merdeka dari seluruh pola pikir, dari seluruh kewarasan artificial ini! Bahwa engkau pernah murni! Engkau pernah perawan! Engkau pernah menjadi makhluk langit yang suci dari lumpur dunia! Bahwa engkau tidak terlahir seperti ini!
Suatu saat ketika kau menjadi moster seperti mereka, setidaknya kau adalah monster yang dapat bercerita dengan bangga tentang masa lalumu.

 

Dan itu adalah selemah-lemahnya iman dan keteguhan hati yang kau punya

Nada Pemberontakan dan Berhala Peradaban

 

coolhandluke2

 

 

 

Deru kendaraan, pinggiran jalan besar, perkotaan.
Manusia, rutinitas, kesibukan….
Manusia, terasing dan kering…

 
Seorang pemuda memainkan nada-nada dari gitarnya. Tak seorangpun pernah mendengar nada semacam itu, tapi anehnya nada itu juga begitu akrab ditelinga semua orang. Dia terus memainkan gitarnya.
Nada-nada dari gitar itu sanggup membawa pendengarnya merasakan segala emosi yang bertolak belakang pada saat bersamaaan. Membangkitkan kenangan masa lalu kemudian menukikkan emosi pada gairah masa depan. Suara gitarnya terkadang suram namun sering juga melantunkan jutan warna ceria dari jiwa terdalam. Sayangnya, suara ajaib dari gitar pemuda itu terlalu sendiri diantara lalu-lalangnya kendaraan. Tak kuasa melawan deru-deru kebisingan zaman.
Betapa malang diri mereka yang tak mampu mendengarnya. Sebab telinga mereka terlalu rendah dan awam, mereka masih butuh ribuan putaran kelahiran dan kematian untuk benar-benar menyadari betapa berharga suara yang mereka lewatkan.

 

Seorang pemuda memainkan nada-nada aneh dari gitarnya
Dan dunia –makhluq yang penciptanya saja enggan menoleh padanya- berlalu pongah tak perduli….

~~~~~

Dataran tandus, samudera pasir menghampar, hantaman panas ombaknya, iklim gurun tak kenal ampun ganasnya, namun adakah yang lebih bengis dan beringas dari makhluq bertajuk manusia?

Seorang anak berhadapan dengan dunia, dan masa depannya…
Anak itu bertanya pada bulan, bintang dan matahari. Dia mencoba bertanya pada benda-benda itu. Tak dia pedulikan hembus angin gurun dimalam hari yang meremukkan tulang atau sengatan panas di siang hari. Dia hanya ingin tahu….

Anak itu masih memandang ke langit, ketika musafir-musafir yang lewat mencemoohnya dan mengatainya gila.
Anak itu masih mencari jawaban dari pertanyan-pertanyaannya pada benda-benda langit…

“engkaukah sumber cahaya dari segala cahaya? Kamu? Kaukah?

Kalau bukan dirimu, kau tau dimana sang pemilik cahaya dari segala cahaya itu tinggal?”

~~~~~

Dia duduk di ruang tamu, tatapannyaa tajam pada orang-orang dihadapannya. Mereka bukan musuhnya, mereka justru adalah orang-orang yang paling perduli padanya dan keadaannya. Tapi bukankah, seringkali mereka yang sangat memperdulikanmulah yang kerap membuatmu muak.

 
“lalu apa rencanamu setelah ini?” Lelaki di sebrang meja tamu, pamannya, membuka obrolan kembali setelah beberapa saat keheningan yang canggung menggenang diantara mereka.
“Rencana? Aku tak punya rencana” Sulit tentu untuk menjelaskan keyakinannya yang tidak masuk akal itu. Dia percaya bahwa hanya tuhan yang berhak memiliki rencana atas dirinya. Tapi keyakinan mana yang pernah begitu masuk akal? Dia pandangi gitar di pangkuannya.

 
“jadi bagaimana nak? Kau ingin menyudahi kuliahmu? Lalu bagaimana? Sekarang mana bisa orang hidup layak bila tak memiliki ijazah? Lalu kami ingin tahu rencanamu apa? Tapi ternyata kau tidak punya rencana apa-apa?” Ibunya menimpali dengan pertanyaan bertubi-tubi, pertanyaan yang sudah berulang kali didengarnya, berulang kali dijawabnya dan sekarang dia sudah bosan menjawab itu semua.

 
Televisi di ruang tamu itu masih menyala, suaranya dikecilkan hingga tak terdengar lagi. Dari sudut pandangannya dia bisa melihat sebuah film sedang ditayangkan, adalah film yang sudah berulang kali ditontonnya.

 
Dia tahu adegan itu, ketika Luke dikunjungi oleh ibunya di penjara. Walaupun suara televisi itu tidak terdengar, dia masih sangat hafal dialog yang diucapkan oleh Arletta, ibunya Luke yang sakit-sakitan dan perokok berat itu;

 
“You know, sometimes I wished people was like dogs, Luke. Comes a time, a day like, when the bitch just don’t recognize the pups no more, so she don’t have no hopes nor love to give her pain. She just don’t give a damn…”

 

****

Ribuan tahun yang lalu….

 
Hamparan padang pasir tak berujung, mentari menyengat, tubuh ayahnya perkasa menjulang seperti patung dewa-dewa yang dibuatnya sendiri untuk jadi sesembahan di kuil-kuil.
Manusia, sejak awal peradaban mereka dengan bangga selalu melahirkan berhala; Sesuatu yang mereka ciptakan sendiri untuk kemudian mereka sembah-sembah dan lalu bergantung pada apa yang mereka ciptakan itu.

 
Manusia sedari awal peradaban memanglah makhluq paling mulia, sekaligus paling konyol dari makhluq lainnya.

 
“apa yang kau pikirkan? Kau tinggal meneruskan apa yang ayahmu ini kerjakan. Dengan keringat dan kerja keras ayah menjadi pematung nomor satu di kerajaan. Status keluarga kita terangkat, hidup yang dulunya sulit, sekarang begitu mudah kaudapatkan! Apa lagi yang kau inginkan?!”

 

Tapi peradaban ini tidak bisa diteruskan, cara hidup macam itu sudah terlalu lumrah dijalani oleh orang-orang lain disekelilingnya. Bila dia mengikuti tuntunan ayahnya, hidupnya akan sangat nyaman tentu saja. Tapi dengan satu kenyataan yang tak akan bisa dia sangkal, bahwa dia telah ikut larut dalam melestarikan cara-cara hidup yang telah terlalu mapan bercokol dalam tubuh peradaban.

 

***

 

“kenapa kau begitu ngotot untuk bermusik? Sekedar bermusik? Banyak musikus-musikus yang bisa lulus kuliah? Mereka juga akhirnya bisa ngetop, tenar dan dapat banyak uang… Mungkin kau itu terlalu banyak bergaul dengan orang-orang aktivis kampus. Mereka itu kan sama saja, uang kuliah dibiayai oleh orang tua tapi dengan pongahnya bilang kalau kuliah tidak penting. Paman dulu juga pernah kuliah, pernah jadi aktivis dan….”

 
Tapi pamannya tidak mengerti, dia tak pernah benar-benar bergaul dengan golongan aktivis kampus. Justru karena melihat tingkah polah mereka, aktivis kacrut penghamba kebebasan dan budak nafsu ideology-ideology usang, justru salah satu juga karena melihat golongan menjijikkan inilah dia merasa bahwa percuma baginya untuk memeperdengarkan nada-nada dalam kepalanya pada penduduk kampus itu. Telinga mereka terlalu rendahan dan terlalu awam untuk menanggung beban nada dari semesta.

 
“hidup memang sudah begini nak, di zaman sekarang kalau kau tidak punya ijazah hidupmu akan susah. Kecuali kalau kau anak dari keluarga milyarder, kau bisa melakukan yang kau mau tanpa musti bersusah payah kuliah. Ibu banting tulang membiyayai kuliahmu, lalu sekarang kau malah ingin berhenti, kamu maunya apa anak? Jangan jadi durhaka! jangan jadi anak yang tidak tahu balas budi! Orang lain banyak yang pengen kuliah tapi ndak bisa karena kekurangan dana, kamu ini tinggal menjalani saja masa tidak bisa?!”

 
Maka dia mantapkan langkahnya, jelaslah bahwa pandangannya adalah pandangan yang tidak akan diterima disini. Dia harus pergi, ibunya mulai tersedu-sedu…..

***

 

“orang lain sangat menginginkan posisi seperti yang ayahmu ini dapatkan, kenapa kau yang hanya tinggal mewarisinya dariku malah tak bersedia? Kemana sebenarnya tujuanmu? Apa yang kau cari? Hidup ini sudah begini, semua orang harus bisa menjadi pematung untuk bisa bertahan hidup dizaman sekarang, kecuali bila kau dari golongan para raja atau bangsawan! Kau bisa hidup enak tanpa bersusah payah membuat patung”

 
Dia mencari kebenaran! tapi apakah kata-katanya masih akan berguna untuk diucapkan dihadapan ayahnya? Sebuah kebenaran sejati, atau bila memang ada, dia ingin mencari siapa pemilik kebenaran itu. Ayahnya bahkan tidak sampai mengerti bahwa bukanlah berpeluh memahat patung itu yang dihindarinya, tetapi kejenuhan pada satu pola yang terus-menerus dijalani dan diwariskan dalam masyarakat inilah yang benar-benar menyiksanya. Bilapun pilihannya memang akan menghancurkan hidupnya, toh setidaknya dia tidak ikut serta melestarikan tradisi usang yang membosankan ini.

 
Pencarian pada ketak berbatasan dan cakrawala baru. Tanggung jawab pada terciptanya tatanan zaman hadapan yang lebih menantang, entah bagaimana terasa berat berada dipundaknya.

 
Dia sayang pada ayahnya, dia menghargai jerih payah ayahnya untuk mengangkat harga diri keluarga mereka ditengah masyarakat. Tapi fakta bahwa sekarang semua orang menginginkan posisi seperti keluarganya, tidak membuktikan bahwa memang benar hal itulah yang dicarinya. Hanya karena semua orang menginginkannya, tidak pernah berarti bahwa hal itu memang benar-benar berharga.

 
“Dan kalau kau tidak mau menjadi pemahat patung sepertiku, lantas kau mau jadi apa?!!!”

 
Dia sudah cukup membuat ayahnya berang dengan kata-kata yang begitu saja menyusup dalam hatinya, sekarang kata-kata tak lagi berguna. Keputusannya bulat, dia harus pergi meninggalkan semua ini.
Penyumbatan proses sejarah ini harus segra dibobol.

***

Langkahnya berat meninggalan rumah itu,….

 
Samar masih terdengar raung tangis ibunya, dia sayag pada ibunya dengan sepenuh hati, cinta dan segenap terima kasih yang tak terhingga. Ibunya adalah wanita termulia dalam hidupnya,dia ingin berbakti dan membahagiakan ibunya. Tapi itu semua bukan alasan untuk kemudian dia harus menghentikan petualangannya.

 
Betapa langit masih menanti membukanya cakrawala baru, cita rasa dan udara baru yang belum pernah ada sebelumnya. Betapa semesta selalu memainkan harpa dewi harapan, harapan akan ketak berbatasan, dan hanya telinga yang cukup tinggi yang mampu mendengar warna dari simfoni semesta itu.
Didalam kepalanya, bergaung berulang-ulang nada-nada yang dia yakini disampaikan seluruh isi semesta pada dirinya. Sekarang dia harus pergi melanglang buana, mengembara pada gelegak yang lebih menggairahkan. Dia sangat yakin bahwa manusia-manusia zaman ini sangat butuh diperdengarkan nada yang ada didalam dirinya. Mereka hanya belum begitu mengerti bahwa mereka akan butuh nada-nada itu.

 
Dia pergi meninggalkan rumah, diantara jeritan tangis ibunya.
Di televise, Luke berkata pada Arletta, ibunya;

 
“I don’t know. Well, things are just never the way they seem, Arletta, you know that. A man just gotta go his own way”

 

 

Ah, andai ibunya dapat mengerti….
Tapi yah hidup bukanlah andai-andai, hidup adalah…. Entahlah, dia hanya melangkah sambil menggumamkan kalimat yang diucapkan Paul Newman dalam film itu;
“…a man just gotta go his own way”

***

(Yogya, pada sudut waktu yang lupa- 26 Mei 2013)

Cuplikan film dari film Cool Hand Luke (1967) dibintangi oleh Paul Newman, disutradarai oleh Stuart Rossenberg. Adaptasi dari novel berjudul sama yang terbit tahun 1965 yang ditulis oleh Donn Pearce
Quote “What we’ve got here is…. Failure to communicate” merupakan cuplikan yang paling terkenal dari film ini, juga dipakai oleh group band Guns n Roses sebagai pembuka dalam lirik lagu ‘Civil War’
Fim ini menjadi symbol dari ketidak nyamanan terhadap kemapanan, maka dalam satu poster promosi film ini diberi tag line “

The man…and the motion picture that simply do not conform.”

Disarikan dari dialog tokoh ‘Sang Terhormat yang Bertongkat’ pada pentas seni jalanan Sabtu 3 Februari 2013; Malioboro KM 0

Kau lihat kisanak? Deru-deru kendaraan, zaman yang aku ciptakan

jalan-jalan dibangun mulus, kemudian manusia lalu-lalang di atasnya

tak usah kau banyak bicara memprotes segala macam efek pembangunan ini.

Kami semua puan bekerja keras demi terlaksananya semua kejayaan zaman

tentu saja sebagaimana semua kemenangan, diapun butuh korban

Hentikan kritikanmu! Segala yang kau ucapkan sudah pernah aku lontarkan sebelumnya

semua katakata sok suci itu sudah sangat akrab bagiku

aku juga mengucapkannya, melontarkannya dan meneriakkan katakata itu duluuuuuu…..

jauh di masa-masa mudaku

Masa muda yang penuh gelora dan jaya

saat hidup terhampar lapang dihadapanku, bagai padang-padang kemungkinan yang menanti untuk dijelajah

heh?! kau tahu?! bagiku kau hanya pengeluh zaman

kau gagal membangun jiwa zamanmu, lalu kau timpakan semua kesalahan itu pada orang-orang sepertiku

kau limpahkan kekesalanmu pada aku yag di atas tahta, karena kau gagal meraih tahtamu sendiri

kau tuduh aku maling karena kau iri, kenapa bukan kau yang maling

aku bekerja keras!

aku daki tebing kejayaan, selangkah demi selangkah

aku raih puncak kekuasaan, karena aku ingin berbuat lebih, karena aku ingin ikut andil dalam proses penciptaan peradaban

bukan seperti kau yang hanya duduk menyaksikan kesalahan-kesalahanku dari bawah

lalu kemudian berteriak-teriak lntang sok suci! sok kritis!

kau hanya pengeluh zaman kisanak!

ya, tapi memanglah ada masa-masa dimana aku adalah manusia sepertimu

aku tahu rasanya menjadi dirimu, tapi apa kau tahu rasanya menjadi aku?!

sama sepertimu

aku dulu juga rajin meneriakkan kesalahan-kesalahan orang yang duduk di tahta ini

saat itu aku merasa meneriakkan suara kebenaran

aku dulu adalah pembela rakyat nomor satu!!!!

tak usah kau banyak bicara soal itu kepadaku

aku tahu!

aku mengerti semua kekesalan dan keluhan-keluhan rakyat itu!

dan sekarang kau ingin melontarkan kata-kata yang sama padaku?

cih! Keluhanmu klise kawan!

tapi dulu, aku tidak hanya mengeluh sepertimu

aku bergabung dalam organisasi-organisasi, lembaga-lembaga baik dalam lingkungan mahasiswa ataupun bukan mahasiswa

aku akrab dengan rapat-rapat keorganisasian, aku akrab dengan agenda-agenda para pembela rakyat

dan karena itu, saat aku menjadi aku yang sekarang, aku menjadi maling yang lebih rapih

aku jadi mengerti cara mengkonsolidasi rapat maling

dan mengorganisir lembaga-lembaga maling

lawanku dulu, rezim yang aku tumbangkan

diisi oleh orang-orang lulusan perang

angkatan-angkatan tua yang sudah ketinggalan zaman

mereka hanya mengerti kawan atau lawan

mereka tidak mengerti cara menghadapi lawan yang terorganisir sepertiku

dan kau!

jangan kau coba mengangkat suara ketertindasan

atau parau mereka yang kalah dan menjadi korban dalam peperangan

aku pernah memakai cara-cara itu untuk menumbangkan orde rezim sebelumku

tekhnik picik semacam itu adalah makanan harianku

aku tahu, aku tahu, aku tau

cara seperti itu

ya, tunjukkan saja pada orang-orang derita mereka yang kalah

tunjukkan betapa merana dan menderitanya mereka

lalu kemudian, masyarakat kita yang baik hati namun bodoh-bodoh itu

akan jatuh hati, merasa iba pada sang korban

maka masyarakat dengan sendirinya akan ikut dalam arus besar protes-protes yang sudah diagendakan

aku tahu! aku mengerti!

tekhnik picik jual-jual penderitaan

sebab, entah di berita-berita, maupun di sinetron-sinetron

masyarakat kita selalu menantikan adegan-adegan penuh derai tangis

padahal permasalahan bangsamu bukanlah kemiskinan atau kemelaratan

permasalahan bangsamu adalah ketika gadis-gadis memperkosa diri mereka sendiri

dan kelamin-kelamin jelalatan melata menggerayangi tubuh nusantaramu

permasalahan bangsamu adalah ketika kaum muda roboh tidak oleh mesranya bedil senapan

tapi rontok oleh kemapanan bentuk yang mereka anut tanpa ruh nilai yang jelas

permasalahan bangsamu adalah ketika tubuh tidak lagi dipenjara

tapi pikiran memenjarakan keliaran kreasinya sendiri

Maka jangan kau sekedar angkat suara mereka sebagai korban

ini adalah zamannnya para pengecut!

semua orang berebutan posisi untuk menjadi korban

seolah-olah menjadi korban adalah pembenaran atas segala perbuatan mereka

dalam hati semua orang ada kegelapan

tapi yang membedakan hanyalah, ada yang mau mengakuinya dan ada yang terlalu munafik untuk mengakuinya

setiap zaman adalah zaman edan!

dan ini adalah zaman paling edan dari yang ter-edan

kau tanyakan zaman apa yang lebih edan dari segala zaman edan?

yakni zaman dimana kau dikepung oleh kegelapan, sehinnga kau tak punya pilihan

selain menjadi kegelapan itu sendiri

dan inilah zaman itu!

bukankah tipis beda antara surga Eden dan zaman Edan?

sudah berapa kali aku bilang?

berapa kali harus aku katakan!

aku dulunya adalah orang sepertimu, merasa membela kebenaran

melindungi kebenaran seolah dia adalah perempuan cantik gemulai yang tak bisa melindungi dirinya sendiri

aku dulunya adalah pembela rakyat

harapan bangsa dan negara

untuk itulah aku raih tahta

dan tongkat yang membantuku berdiri

namun…

semua tujuan muliaku berganti arah

ketika rumah tangga menjadi penjara

dan anak-anak menjelma tuntutan-tuntutan yang tak ada habisnya

aku butuh tongkat untuk membantuku tegak

dengan segala jerih payah aku raih tongkat ini

namun tongkat yang dulunya membantuku berdiri, sekarang justru harus dengan susah payah kulindungi dari orang-orang sepertimu

maka simpan untukmu sendiri sikap sok sufimu

seolah-olah kau tidak tergiur dengan tongkat mewah ini

padahal, nyatanya kau hanya tak memiliki kesanggupan untuk meraihnya

kau pikir aku dulu tidak menjalankan laku-laku para sufi?

kau pikir aku dulu tidak menimba kebijaksanaan dari berbagai mata air pencerahan?

aku sudah bilang! aku pernah menjadi sepertimu!

spiritualitas, agama, tuhan

cih!

sesaat aku tersadar, bahwa itu hanyalah barag-barang bekas yang selalu laris dijual

bangkai-bangkai ideologi berserakan dihadapanku

kiri mentok sampai kanan kejedot! aku tahu semuanya hanya sampah!

dan kau bicara soal demokrasi?

oh, kuda tunggangan paling ampuh untuk menuju tahta

suara rakyat suara tuhan hahahahaaaa….. suara tuhanmu sudah aku beli

bahkan kalau perlu tuhanmu aku bungkus dan aku jual

tuhan-tuhan aku import sebagaimana mereka mengimport agama dan ideologi

nasionalise pula yang kau bicarakan?

Garuda Pancasila?!

Burung Garuda yang cakar tajamnya mencengkram Bhineka Tunggal Ika

sehingga kebhinekaan selalu robek dan tercabik-cabik

burung Garuda yang Paruhnya selalu menengadah ke atas, menganga, meminta-minta

karena kelaparan???!!!!

Garuda Pancaila???!!!! yang kau bayangkang gagah mengangkasa

tapi nyatanya terkurung dalam kandang emprit!

berceloteh seperti beo dan menjadi hiburan seperti burung nuri

di panggung politik internasional!?!

aku tidak takut pada massa mu yang berjubel

atau para mahasiswa bergelombang-gelombang memenuhi jalan

aku tau trik memobilisasi massa sehingga aku juga tau cara mengendalikannya

dan aku sangat mengerti bahwa mereka yang turun ke jalan

meneriakkan suara-suara rakyat itu

tidak pernah benar-benar mengerti suara rakyat yang mereka usung

aktivis? mahasiswa? kapan mereka punya waktu untuk bergaul dengan para jelata?

sedangkan mereka sendiri sibuk dengan urusan akademis mereka sendiri-sendiri

atau sibuk dengan kegiatan-kegiatan, rapat-rapat organisasi membahas ideologi-ideologi semu

aku tidak takut dengan kaum-kaum intelekmu yang sibuk berkoar-koar di media

sebab kaum intelek berbicara berdasarkan teori

bukankah setiap teori pasti mempunyai anti-thesis nya?

aku tidak takut dengan semua itu!

yang aku gentarkan adalah tarian yang menghentakkan langit dan bumi

tarian gemulai yang meratakan zaman dan meluluh lantakkan peradaban

majulah! tunjukkan padaku tarian itu!

tunjukkan padaku keanggunan sebuah pertarungan bersimbah darah

tunjukkan padaku kualitas manusiamu!

lawan aku dengan gagah layaknya martir yang siap mati membela keyakinannya

tumbangkan peradaban ini!

ciptakan zamanmu!

pada saatnya aku akan terima dengan gagah akhir dari segala pencapaianku

sebab sesungguh-sungguhnya, aku telah lama menjadi yang kalah

dunia nyata adalah luka

dunia nyata adalah luka

akhiri luka ini

akhiri zaman ini, dimana manusia diekpung oleh kegelapan

sehingga tak seorangpun memiliki pilihan

selain menjadi kegelapan itu sendiri

tak ada pilihan

selain menjadi kegelapan….

……….

…………

………………..

HIO

Kisah Jam Dinding Tua

Pintu kayu reot berderit membuka, gema langkah-langkah kaki memantul di dinding kusam. Suara sepatu hak tinggi beradu dengan lantai muram berdebu. Seorang wanita terdengar sedang menjelaskan sesuatu pada beberapa orang lainnya.

Jam dinding tua musti bersusah payah untuk dapat melihat apa yang sedang terjadi. Matanya sudah sangat lemah, sedang cahaya di dalam ruangan hanya berasal dari sinar-sinar usil yang menyelinap nakal melalui celah genteng. Pelan dan perlahan, jam dinding mulai dapat melihat wajah wanita itu. Awalnya samar, namun kemudian dia dapat mengenali wajah itu, wanita yang dulu begitu akrab baginya.  Jam dinding tersenyum.

Ah, sudah berapa lama sejak terakhir kali dia tersenyum? Entah… Lagipula  kemana jam dinding tua harus bertanya tentang waktu?

Namun hanya sekejap saja, senyumnya sirna ketika dia mendengar wanita itu berbicara pada beberapa orang asing  “dan kalau memang deal dengan harga penjualan rumah ini saya harap….”

Rumah ini?? dijual???? Seketika jam dinding tua tak lagi sanggup mendengar, pandanganya kembali buram, detak-detik jarum di tubuhnya melemah, kehidupan beranjak perlahan dari dirinya. Jam dinding itu udah terlalu tua, letih dan kecewa.

dan sebelum segalanya sirna, bekelebat segala kenangan….

“ada masa-masa, dimana segalanya terasa begitu sederhana dan apa adanya….”

***

Alkisah tersebutlah sebuah jam dinding yang menempel setia pada dinding rumah kecil sederhana. Entah sejak kapan dia ada disitu, entah sejak kapan jam dinding menyadari bahwa dirinya hidup, entah sejak kapan jam dinding mulai menyaksikan dan merasakan hal-hal disekitarnya. Merasakan, bukankah hal itulah yang disebut hidup? Jam dinding tak punya tempat untuk bertanya, yang pasti memori pertamanya adalah ketika sebuah keluarga kecil mulai menempati rumah sederhana itu. Dan ketika anak pertama mereka merangkak dengan usil, terpana menatap jam dinding, anak itu menunjuk-nunjuknya, melambaikan tangan ke arahnya kemudian tertawa terkekeh-kekeh entah sebab apa. Maka kenangan pertamanya; wajah kecil ceria dan polos yang diliputi cahaya kemurnian. Jam dinding masih ingat, kala itu diapun tersenyum -mungkin- untuk yang pertama kalinya.

Dua puluh empat jam dalam sehari dan setiap hari tanpa henti, jam dinding menyaksikan dengan seksama keluarga kecil itu bertumbuh dalam keceriaan yang sederhana. Letaknya yang tepat di ruang tengah ditambah ukuran rumah yang tak seberapa luas, cukup membuatnya leluasa untuk menyaksikan hampir seluruh kegiatan keluarga itu.

Dari tempatyalah jam dinding menyasikan kasak-kusuk mereka dipagi hari, anak-anak yang bersiap sekolah, ayah berangkat kerja dan ibu yang senantiasa menyiapkan sarapan seadanya.

Mungkin hanya jam dinding yang tahu dan mengerti kelelahan si ibu. Tapi apalah gunanya, bila hanya tahu dan mengerti sedang dia hanyalah sebuah jam dinding yang tak bisa berbuat apa-apa selain menunjukkan waktu pada manusia. Padahal dirinya sendiri kesulitan untuk melihat waktu pada tubuhnya. Sebab hanya jam dinding yang menyaksikan bagaimana selepas anggota keluarga lain berankgat di pagi hari, ibu masih dengan sabar menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan rumah lainnya. Mencuci piring sisa sarapan, melanjutkan menyapu, mengepel, mencuci dan meyetrika pakaian. Kadang semua itu belum selesai saat anak-anak pulang sekolah dan berlari riang masuk rumah. Anak-anak sering lupa melepas sepatu. Maka keluarlah dari mulut ibu omelan-omelan dan ocehan yang akan diacuhkan saja oleh anak-anak karena secepat kilat mereka sudah berganti pakaian untuk sejurus kemudian beranjak keluar rumah, bermain bersama teman-teman mereka.  Jam dinding selalu tersenyum menyaksikan kejadian-kejadian ini.

Sore hari, saat kepulangan ayah dari kantor. Anak-anak pulang juga dari tempat mereka bermain entah dimana.  Setelahnya adalah saat-saat mereka berkumpul bersama. Ayah dan ibu akan membantu anak-anak mengerjakan pekerjaan rumah, atau setidaknya menemani menonton televisi, televisi yang dibeli bekas, 14 inch dan warnanya sudah buram-buram.

Ah, jam dinding tua pula menyaksikan bilamana anak-anak sudah tertidur dimalam hari. Ayah dan ibu bersantai di ruang tengah sembari nonton televisi. Ngobrol, bersenda gurau dan lebih sering berakhir dengan kegiatan-kegiatan yang jam dinding tak mengerti awal mula dan tujuannya. Kegiatan yang akan mengandung banyak unsur pelukan, gumul dan mereka tampak akan saling memakan satu sama lain, kadang jam dinding sedikit khawatir karena mereka terlihat beringas! seperti dua binatang yang sedang berkelahi. Lalu setelah tingkat  ‘keberingasan’ semakin mengganas, mereka berdua akan segra masuk ke kamar. Semakin sering jam dinding menyaksikan hal itu, semakin jam dinding tidak lagi khawatir sebab toh keesokan paginya semua kan berjalan dengan baik-baik saja.

Mereka keluarga yang sangat sederhana, tapi kebahagiaan bukankah memang lebih dekat pada kesederhanaan daripada dengan kemewahan?

Jam dinding tahu, keluarga itu jarang memperhatikan keberadaannya. Mereka hanya menoleh kepadanya sesekali. Tapi kehangatan dan kebersahajaan mereka, membuat jam dinding merasa telah menjadi bagian dari keluarga itu.

Jam dinding pun tumbuh bersama keluarga itu, dan dia setia pada tempatnya. Setia layaknya waktu yang tak lelah menunggu.

Keluarga kecil itu tak pernah menyadari, bahwa betapapun mereka tak pernah sekali saja mengganti batrei di jam dinding itu -bahkan mereka tak pernah memeriksa apakah jam dinding butuh batrei atau tidak- jam dinding tetap menjalankan tugasnya seperti biasa, detik demi detik, dengan teliti dan tanpa henti. Juga tersenyum selalu, walaupun seyumannya adalah senyuman yang tak pernah disaksikan oleh serangpun jua. Seperti kata-kata yang tak pernah terucap.

Jam dinding tentu saja juga menua, dan seperti segala sesuatu yang disepuh oleh sang masa diapun bertambah bijaksana dari waktu ke waktu. Dia sudah menyaksikan anak pertama belajar merangkak, berjalan beberapa langkah; langkah-langkah kecil manusia yang menjadi permulaan segala petualangan, dia juga menyaksikan ketikan sang ibu diliputi kegembiraan saat mengandung anak kedua, dia menunggu dengan cemas ketika semalaman keluarga itu tidak pulang dan tersenyum haru saat keluarga itu pulang pagi harinya dengan sesosok bayi perempuan, mungil cantik dalam bungkusan kain yang hangat. Jam dinding tetap di sana, ketika anak kedua tertidur di pangkuan ibunya, jam dinding menatapnya penuh sayang penuh cinta. Saat anak kedua beranjak merangkak dia juga pernah -bahkan sering- melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan anak pertama ketika seusianya; melambaikan tangan dan tertawa terkekeh-kekeh pada jam dinding tua. Mungkin saat manusia masih seusia itulah, saat mereka masih berupa kemurnian dan kesejatian, mereka bisa merasakan betul sesuatu yang benar-benar hidup disekitar mereka. Jam dinding masih di sana, ketika anak-anak sudah berlari-lari ceria, ketika mereka bernjak remaja dengan kenakalan-kenakalan yang pongah. Jam dinding setia ketika ibu memulai usaha catering kecil-kecilan, sekedar melayani pesanan tetangga-tetangga dan orang terdekat.

Tentu saja ada beberapa hal yang tidak dapat dilihat oleh keluarga itu, namun dengan jelas disaksikan oleh jam dinding. Pernah suatu ketika saat usia anak-anak itu menginjak remaja. Si anak kedua hanya dengan teman lelakinya dirumah. Ibu sedang pergi ke rumah keluarga yang sedang acara syukuran dan ayah masih di kantor. Jam dinding menyaksikan, anak kedua dan temannya seperti akan melakukan kegiatan ‘beringas’ yang biasa dilakukan orang tuanya. Tapi kali ini sesuatu mengganggu perasaaan jam dinding, seolah ada hal yang tidak beres pada hal itu. Jam dinding, tidak seperti biasanya, tak bisa tersenyum menyaksikannya. Gundah, jam dinding murung. Maka ketika si anak kedua berbaring terlentang di kursi tamu, tepat ketika temannya sedang akan ‘menindih’ tubuh setengah telanjang itu. Si anak kedua tanpa sengaja menatap jam dinding. Tiba-tiba seolah tersadar dari satu kesilapan fatal! Anak kedua  mendorong tubuh temannya, menghempaskannya hingga jatuh terjungkal! Mengenakan kembali semua pakaiannya lalu dengan singkat berkata “Kita putus!” Entah kenapa saat itu jam dinding merasa sangat lega, walau tak mengerti apa yang sedang terjadi. Diapun kembali tersenyum.

Juga ada hal ini, yang aneh adalah jam dinding selalu melihat ayah dalam wujud yang sering berubah-rubah. Sebenarnya tidak tepat juga bila disebut wujudnya berubah, hanya terkadang ayah terlihat sangat tua, dan bila ayah sedang terlihat seperti itu jam dinding merasa seolah sedang memandang sosok seorang petapa. Seperti petapa yang berada pada tempat yang tidak semestinya. Petapa yang harusnya berada di goa pertapaan atau di petilasan sepi. Petapa yang lelah menyaksikan dunia, terusik hingar bingar dan kecewa pada realita. Entahlah, penglihatan seperti itu lebih sering diabaikan oleh jam dinding.

Dan ada masa itu, ketika keluarga ini dilanda kesulitan. Ada keributan-keributan dan pertengkaran yang disaksikannya dengan sedih, antara ayah dan ibu. Gaji ayah yang walaupun karirnya menanjak tetap kurang mencukupi untuk membiayai dana pendidikan anak pertama dan anak kedua mereka. Ibu dirundung kecemasan yang teramat dalam, sebentar lagi anak-anak akan masuk bangku kuliah, harga-harga bahan pokok menanjak, ayah berusaha menenangkan ibu, bahwa semua akan baik-baik saja, bahwa mereka hanya perlu untuk sedikit hidup prihatin, prihatin? Ibu tak bisa menerima kehidupan yang lebih prihatin dari yang mereka jalani selama ini. Ayah menyarankan ibu untuk menghentikan sementara usaha catering, tapi ibu bersikeras bahwa justru catering itulah yang membantu meringankan beban mereka.

“Tapi harga bahan-bahan pokok melonjak kan, bu?”

“Iya, tapi gaji ayah pun tak seberapa!”

Tersinggung, malam itu ayah pergi meninggalkan rumah.

Ibu masuk kamar, menangis.

Jam dinding cemas, tanpa sengaja dia melihat anak pertama mengintip sedih dari celah pintu kamarmya, dia menyaksikan semua kejadian itu.

Malam harinya, ibu keluar dari kamar, ke kamar mandi sebentar, lalu melakasanakan sholat malam di ruang tengah. Selesainya ibu berdo’a dengan khusyuk, khusuk sekali. Air mata bercucuran di pipinya, kalimatnya lirh “Ya Allah,  permudahkan hamba dalam mencari nafkah, keluarkanlah kami dari himpitan kesulitan ekonomi ini ya Allah….” berulang-ulang terus-menerus. Jam dinding pun menangis, namun air matanya tak terlihat.

Keesok paginya ayah pulang, bertemu ibu, ayah mengecup kening ibu. Meminta maaf atas kejadian semalam, mereka berdua berpelukan, menangis dan saling meminta maaf.

“Kita pasti bisa melalui ini semua Bu” Ibu mengangguk, air mata tak habis mengalirkan harapan.

Sejak itu, jam dinding menyaksikan ibu bekerja lebih giat menangani dan mempromosikan cateringnya, ayah juga terlihat lebih bersemangat setiap berangkat kerja.

Pesanan catering yang dilayani ibu makin meningkat dari hari ke hari, ibu terlihat lelah namun sangat bersemangat memenuhi target catering, semua pesanan diselesaikannya tepat waktu. Perlahan tapi pasti, biaya pendidikan anak-anak mulai tercukupi tapi ibu masih harus bersusah payah melayani setiap pesanan. Lalu ibu mulai bisa mempekerjakan seseorang untuk membantunya mengerjakan pesanan catering, kemudian bertambah seorang lagi, lalu seorang lagi…

Satu hari, ayah pulang kerja membawa berita baik; walau menjelang pensiun tapi ayah mendapat kenaikan jabatan. Semua anggota keluarga bersuka cita, begitupun jam dinding yang saat itu mulai menua. Namuna tawa bahagianya seperti juga air matanya, tak pernah tampak oleh siapapun.

Kemudian uang tak lagi menjadi masalah, catering ibu berkembang pesat dan pekerjanya bertambah banyak. Gaji ayah di posisi baru lebih dari cukup untuk memenuhi semua kebutuhan. Saat waktunya menginjakkan bangku kuliah, anak pertama didaftarkan di universitas ternama yang biaya pendaftarannya saja sudah selangit.

Beberapa tahun berlalu, penuh kerja keras dan usaha yang berapi-api…

Jam dinding pun tetap melaksanakan tugasnya, masih di dinding yang sama juga dalam lingkaran dimensi waktu yang sama. Walau kadang jam dinding merasa mulai terasing, sebab sekarang dia tak lagi leluasa melihat semua kegiatan keluarga itu. Sebab rumah itu sekarang bertambah luas, beberapa ruangan ditambahkan, dimodifiasi dan banyak perabotan-perabotan yang asing baginya.

Jam dinding tua heran, keluarga itu sudah jarang berkumpul seperti dulu. Anak kedua juga sudah mulai kuliah, menyusul kakaknya di universitas yang sama. Mereka punya kendaraan sendiri-sendiri sekarang. Ibu tak lagi menangani catering. Sekarang ibu memiliki rumah makan sendiri yang letaknya jauh dari rumah. Anak-anak selalu pulang ketika malam hari dan langsung menuju kamar masing-masing.

Jam dindinglah yang merasakan kesepian yang mendalam, manakala ayah pulang dari kantor menjelang senja. Terkadang langkahnya penuh kelelahan, dia akan duduk di kursi malas menyalakan televisi yang sudah bukan televisi 14 inch dulu itu. Sekarang di sana adalah satu set home theater mewah yang memanjakan mata dan telinga pemirsanya, entah jiwanya. Jam dinding melihat seringkali ayah menatap pintu masuk, seolah sedang menanti sesuatu atau seseorang yang tak kunjung datang. Cahaya senja memperjelas raut usia diwajah ayah, oh senja yang murung menyadarkan jam dinding tua bahwa ayah mulai dirambati usia. Dan memang, ayah makin tampak mirip dengan sosok petapa.

Jam dinding bingung, saat itu dia harus merasa senang ataukah sedih? Do’a yang dulu dilantunkan oleh ibu dengan segenap kekhusukan, rasa-rasanya terjawab dengan semua ini. Keluarga ini bukankah telah selamat dari badai? Tapi seolah ada yang salah, entah kenapa badai seperti baru saja akan datang…

Satu kali jam dinding tertegun melihat ayah menunggu kedatangan ibu, anak kedua pulang pukul 10 malam dan langsung menuju kamarnya, anak pertama entah menginap dimana malam ini. Barulah menjelang tengah malam ibu datang dengan lelah. Ayah menyambut gembira, mengecup kening ibu, memeluknya lalu berkata

“selamat ulang tahun pernikahan, sayang”

“wah, iya juga ibu sampe lupa lho yah….”

Ayah tampak sedikit kecewa

“dan ibu tahu? enam bulan lagi ayah pensiun Bu…” Ayah sumringah

“iya tahun ini yaa ayah pensiun wah tidak terasa ya yah dan itu berarti….”

Ayah mengangguk kencang, antusias!

“iya bu, kita bisa menikmati masa tua dengan tenang, kita pindah ke kampung! Kehidupan diperkotaan ini terlalu sumpek dan pengap, udara persaingan dimana-mana, semuanya tergila-gila dengan karier, dengan jabatan, mari bu kita pergi menjauh dari semua ini”

Jam dinding ikut  bersemangat, ia berharap perbincangan ini akan diakhiri dengan kegiatan ‘beringas’ yang sudah lama tak disaksikannya itu. Jam dinding menunggu penuh harap…

” Bukan itu yah, maksud ibu itu berarti pendapatan bulanan kita akan berkurang drastis! Padahal ibu butuh dana tambahan untuk membuka cabang baru restoran. Lagipula masa kita pergi ke kampung dan meninggalkan usaha di sini? Gak bisa donk yah, prospek bisnis sedang lancar-lancarnya gini, lagipula anak-anak belum ada yang selesai kuliahnya. Ayah ni lho lucu-lucu aja…”

“Usaha disini serahkan pada anak-anak Bu, mereka sudah menjelang dewasa sudah saatnya diajarkan bertanggung jawab, bukan?”

“Ah, mereka masih belum mampu Yah, liat aja ngurusin diri mereka sendiri aja belum bisa koq, sekarang persaingan dunia kerja makin ketat Yah, klo kuliah mereka terganggu bisa susah dapat kerjaan. Ayah mau mereka jadi kayak Ayah yang memulai kerja dari tukng bersih-bersih di kantor? …. Udah ah, Ibu capek”

Ibu masuk kamar. Ayah mematung di tempatnya berdiri, tersinggung dan kecewa. Namun kali ini dia menghadapinya dengan ketabahan seorang petapa sejati.

Jam dinding berdetak tanpa tahu harus berbuat apa…

Enam bulan dalam keterasingan yang sudah dianggap wajar oleh keluarga ini….

Masa pensiun ayah pun tiba.

Pesta perpisahan diadakan dengan sederhana di rumah,  sekedar mengundang teman-teman kantor untuk makan malam bersama.

Semua orang memuji betapa ayah adalah orang yang sukses dalam karier, ayah hanya menjawabnya dengan senyum atau sekedar ucapan terima kasih.

Jam dinding tahu betul bahwa bagi ayah, pekerjaanya bukan tentang menanjaknya karier. Tapi bagaimana dia melaksanakan tugas dan memberikan pelayanan terbaik pada masyarakat sesuai dengan bidangnya. Saat masih menjabat, berkali-kali Ayah menerima tamu utusan orang-orang penting yangmembawa uang pelicin untuk suatu urusan yang memerlukan tanda tangan ayah tapi selalu ditolak bahkan ada yang langsung diusir saat itu juga. Jam dinding sangat bangga menyaksikan kejadian-kejadian itu.

Bagi Ayah, pekerjaan adalah pengabdian. Ayah tak memanfaatkan pekerjaannya untuk mencari keuntungan semata demi dirinya.

Jam dinding terharu saat anak pertama datang pada ayah dan mencium tangan Ayahnya, persis seperti yang sering dilakukannya saat masih kanak-kanak. Ayah tersenyum, menatap wajah anaknya dalam-dalam dan menepuk pundaknya, anak itu telah tumbuh seperti dirinya; teguh pada prinsip, setia pada nurani.

Saat ayah menatap wajah putranya, sebuah jiwa telah diwariskan.

Anak kedua datang dan memeluk Ayah dengan manja, memberinya selamat dan kecupan dipipi.

Ibu juga datang dan mencium tangan ayah, Ayah memandagnya penuh cinta tapi dengan satu kekecewaan. Ah manusia, betapa cinta dan kekecewaan bisa beriringan langkah dalam diri mereka.

Jam dinding tua menyaksikan sambil menitikkan air mata yang tak terlihat.

Setelah itu ada masa-masa sepi…

Ayah lebih banyak duduk berdiam di ruang tengah, bahkan tak berminat menonton apapun melalui home theater. Hanya duduk dengan pandangan kosong. Ibu akan pulang di malam hari, selalu dengan keluhan-keluhan. Bahwa sekarang kondisi bisnis sedang lesu, pelanggan berkurang, padahal cabang baru rumah makan sudah terlanjur dibuka, utang di bank menumpuk dan berbagai macam keluhan lain. Ayah hanya mendengarkan, tapi segra setelah itu, ibu akan mulai mengeluh tentang kondisi rumah yang bernatakan, anak-anak yang jarang pulang dan ayah yang tidak melakukan apa-apa di rumah. Keluhan demi keluhan, kemudian menjadi kalimat-kalimat yang dipenuhi kemarahan yang lelah. Ayah hanya mendengarkan, tak menjawab, tak bergeming.

Jam dinding tahu bahwa sesibuk apapun ibu di luar rumah setiap pagi sebelum memulai aktifitasnya ibu masih bekerja seperti dulu, mencuci pakaian, membersihkan rumah serta memasak. Hanya saja, bila dulu setelah memasak ibu akan menunggu anak-anak pulang untuk makan bersama, sekarang dia tidak lagi menunggu apa-apa. Ibu akan langsung bersiap dan meninggalkan rumah segera setelah segalanya beres. Makanan hasil masakannya akan ditinggal di atas meja makan begitu saja. Kesibukan rupanya telah merenggut waktu dan banyak lagi dari keluarga ini.

Pada satu senja yang rapuh, yang cahaya keemasannya membelai lembut. Ayah keluar dari kamar, jam dinding terkejut betapa saat itu ayah benar-benar tampak seperti seorang petapa yang kelelahan. Dia berdiri dan memandang berkeliling, awalnya jam dinding mengira dia sedang mencari sesuatu. Namun kemudian jam dinding menyadari ayah sedang melihat kepada benda-benda yang sejak awal dulu sudah ada di ruangan itu. Ayah memandangi dengan sendu pada benda-benda yang keluarga itu miliki sejak awal mereka menempati rumah itu.Lemari kayu tua, meja kecil,vas bunga dan akhirnya pandangannya berhenti pada jam dinding tua, pada dirinya. Lama ayah memandang pada jam dinding tua, sehingga jam dinding tua merasa seolah sedang berpandang-pandangan dengan ayah.

Setelah itu ayah duduk di kursinya yang biasa, ternyata sedari tadi ayah membawa sebuah album foto ditangannya. Beberapa saat ayah terlihat membolak-balik lembar-lembar album lusuh berdebu itu.

Kemdian semacam sedang memantapkan pilihan, ayah bangkit berdiri. Sesaat dia menoleh kembali kepada jam dinding tua lalu berkata lirih “ada masa-masa dimana segalanya terasa begitu sederhana dan apa adanya, tapi waktu berlalu dan segalanya berubah. Mungkin hanya yang paling dekat dengan sang waktuah yang mengerti jalanku ini” ayah tersenyum lagi pada jam dinding tua, terasa seperti senyuman sahabat yang sedang berpamitan untuk pergi jauh.

Lalau ayah pergi, melangkah dikelebatan senja untuk menyelsaikan tapanya. Dia pergi meninggalkan rumah itu, meninggalkan segala kenangan, menyongsong mentari, menghampiri malam, yang semuanya juga akan berlalu pada waktunya.

Jam dinding tua tak ingin bersedih karena dia tahu ayah akan mendapatkan kemerdekaannya yang paling sejati. Tapi rasa kehilangan tak bisa dipungkiri menyesak dalam dirinya.

Dan seperti biasa ibu pulang di malam hari itu. Capek, lelah kemudian marah-marah begitu tahu pintu rumah tidak terkunci. Ibu mencari ayah di kamar, tentu saja dia tak menemukannya di sana. Ibu duduk di ruang tengah, beberapa berkas peminjaman dana bank  dihempaskannya di atas meja, berkas-berkas tebal itu menutupi album foto yang ditinggalkan ayah diatas meja. Foto-foto ketika anak pertama berhasil naik sepeda untuk pertama kali, foto-foto anak kedua yang langganan juara kelas di sekolah dasar, foto saat mereka sekeluarga bertamsya dan semua foto kenangan itu tertutup oleh tumpukan kertas yang mungkin semuanya berbicara tentang uang. Kenangan memag tak menghasilkan uang, dia tak bisa dijual. Tapi bukan berarti dia tak berharga, justru hal-hal paling berhargalah yang tak kan pernah sanggup ditakar dengan uang. Namun manusia seringkali menyepelekannya.

Perlu beberapa hari bagi ibu untuk menyadari bahwa ayah memang pergi dari rumah itu dan tak lagi berniat untuk kembali. Setelah itu emosinya sering memuncak, anak pertama dan anak kedua menjadi sasaran. Bahwa ibu melakukan ini semua demi keluarga, bahwa ibulah yang berkorban menopang kehidupan keluarga selama ini, bahwa betapa tidak bergunanya lelaki yang kalian panggil ayah, itulah lelaki tak kuat menghadapi cobaan. Segala macam kalimat-kalimat yang jam dinding tahu, bahwa itu hanya ekspresi dari kekecewaan dan kelelahannya.

Suasana rumah tak lagi senyaman dulu, jam dinding menyadari itu. Setiap ada kesempatan, ibu selalu marah bahkan mengamuk melontarkan kalimat-kalimat kasar. Anak pertama dan anak kedua makin jarang pulang. Rumah lebih sering kosong.

Hingga pada suatu malam…

Rumah kosong, ibu beberapa hari ini tak pulang ke rumah. Sangat gelap, ketika pintu terbuka. Dua orang memasuki rumah, jam dinding tua tak bisa melihat siapa yang datang, terlalu gelap malam itu.

Barulah saat seorang dari mereka menyalakan lampu, jam dinding dapat melihat dengan jelas. ternyata anak pertama dan anak kedua. Hmmmm sudah seminggu mereka tak pulang ke rumah.

“Ambil barang-barangmu dik, secukupnya saja”

“iya kak”

Anak kedua masuk ke kamarnya

Jam dinding bingung.

Anak pertama tetap di ruang tengah, mengarahkan pandangan ke seisi ruangan. Tatapannya selalu berhenti lama pada benda-benda yang keluarga ini miliki sejak awal menempati rumah. Ah, andai saja dia tahu bahwa ayahnya juga melakukan hal yang sama beberapa bulan yang lalu.

Anak kedua keluar dengan koper kecil. Tepat ketika anak pertama sedang menatap jam dinding tua, persis seperti yang dilakukan ayahnya.

“aku udah siap nih kak, kakak gak bawa baju lain?”

“tidak usah dik, kakak begini saja, yang ada disini biar kutinggalkan agar menjadi kenangan saja” dia masih menatap jam dinding tua

Anak kedua, telah menjadi gadis cantik dan periang. Mata bulat penuh keingin tahuan, mata yang hidup menandakan kemurnian yang belum tersentuh kemunafikan. Mata cantik itu, ikut mengarahkan padangannya ke jam dinding tua dan diapun tersenyum. Manis sekali…

“Kakak tahu? Sekali waktu jam dinding ini pernah menyelamatkanku”

“hhmmmm? bagaiamana?”

“Entahah kak, satu kali itu aku hampir saja melakukan kesalahan yang bisa saja akan kusesali seumur hidupku namun saat melihat jam dinding ini, aku tak jadi melakukannya”

“Kenapa bisa begitu dik? lagian maksudmu kesalahan apa yang sebegitu besarnya sampai-sampai bisa disesali seumur hidup?”

“Entahlah kak, dengan melihat jam dinding ini saat itu aku tiba-tiba teringat semua kenangan masa kecilku dan aku tak ingin kehilangan kepolosan, kejujuran, kemurnian masa-masa itu”

“Tapi kesalahan apa dik?”

“ah, udahlah kaaak….. kita mau kemana nih? aku juga udah gak betah di sini”

Dia menggelayut di lengan kakaknya, kemudian menyandarkan kepala dengan manja dibahu kakaknya. Mereka berdua menatap jam dinding tua, menatap dalam-dalam.

“Kakak selalu merasa jam dinding ini menyimpan semua kenangan masa kecil kita dik, waktu kecil Kakak percaya kalau dia hidup”

“ah,kakak aneh-aneh aja dehhhh… Trus kita mau kemana nih kakaaaaak?”

“Yasudah dik, ayok…”

Mereka berpaling, melangkah berdua. Kedua saudara itu siap menghadapi dunia bersama-sama.

Anak pertama sudah keluar dari ruangan ketika si anak kedua menutup pintu, entah mereka lupa atau sengaja tak mematikan lampu. Sebelum menutup pintu itu, anak kedua menoleh sesaat pada jam dinding tua, mata bulatnya penuh sinar kehidupan, tersenyum centil sambil berbisik

“thank you for keep me alive”

Samar jam dinding tua masih mendengar suara anak pertama

“Tokyo dik, Tokyooooo”

Tak ada badai yang bisa merenggut keceriaan mereka, bagi jam dinding tua mereka adalah Pangeran Bijaksana dan Putri Keceriaan. Jam dinding tersenyum, air matanya menetes.

Akhirnya ibu menyadari juga bahwa anak pertama dan anak keduanya sudah pergi. Dia pun jarang pulang ke rumah, menyibukkan diri dengan urusan-urusannya yang sudah entah apa lagi tujuannya. Bila tak ada keluarga, tujuan apa lagi yang kau miliki?

Kemudian dia pun tak pernah pulang, lama….

***

Ada yang bertapa, ada yang berkelana

Ada yang larut dalam kesibukan

Waktu tetap berlalu, melibas segala

Apa yang lebih kejam dari sang waktu,

namun adakah yang lebih indah dari kenangan?

****

Wanita itu tak mampu meneruskan kata-katanya, tatapannya membentur ke arah jam dinding tua bernaung. Dia baru menyadari bahwa sekarang jam dinding itu sudah tak lagi berdetak. Jam dinding yang setia menemaninya melalui masa-masa tersulit dalam hidupnya. Matanya berkaca-kaca

“gimana bu?”

“Oh iya, begini… bila jadi deal dengan harga penjualan rumah ini saya minta…” lehernya tercekat sekali lagi. Ada beban yang ditahannya, beban bertahun-tahun yang tak tuntas.

Lalu dia melanjutkan, ketegasan kembali diraut wajahnya. Ketegasan yang dikenal oleh semua rekan-rekannya, yang membawanya pada kesuksesan demi kesuksesan.

“Saya minta, agar dinding yang disana itu, beserta jam dinding itu jangan diubah sedikitpun”

“Memang ada apa dengan dinding disana itu Bu?”

“Tidak usah banyak tanya, akan saya minta asisten saya untuk memasukkannya dalam perjanjian jual beli aset ini”

Tapi jam dinding sudah tak mendengar lagi, dia tak pernah tahu betapa ibu pun juga pernah merasakan kehadirannya. Jam dinding juga tak perlu lagi mendengar percakapan-percakapan setelah itu, dibelakang si ibu.

“Ini permintaan tidak masuk akal, perusahaan kan berniat membeli semua tanah disekitar sini untuk dijadikan pusat perbelanjaan. Satu dinding tidak boleh dibongkar, itu bisa menghambat seluruh rencana”

“Iya aku tau, tapi lawan bicara kita tadi Ibu Damayanti. Kau tau, bahkan Pak Bos aja tidak berkutik didepannya”

“Iyaalah aku tau itu. Tapi tetap saja ini permintaan tidak masuk akal. Aku baca profil ibu itu di majalah-majalah ekonomi, asetnya dimana-mana bahkan sudah mendunia. Tapi rumah ini kenapa sulit sekali dia melepasnya? Sampe harus ada permintaan-permintaan tambahan semacam itu!? eh, tapi…. apa dia itu sudah menikah?”

“Entahlah, katanya sih sudah tapi aku gak pernah liat suaminya?”

……………………..

……………………

…………………..

*******

Jam dinding sudah tak mendengar semua itu, dia memang sudah tak butuh mendengar apa-apa. di bahkan tak perlu tahu, bahwa jasadnya yang sudah tak berfungsi di dinding rumah itu telah mencegah penggusuran besar-besaran untuk mendirikan pusat perbelanjaan.

Jam dinding sudah terlalu tua, letih dan akhirnya mati dalam kekecewaan.

Melantur Tentang Kegagalan dan Sesuatu yang Patut Dikenang

Setahun, mungkin hampir setahun ketika pertikaian tentang kantin mulai mencuat. Setahun mungkin hampir, aku masih ingat karena memang sekitar bulan Juli tahun lalu aku meninggalkan Jogja, kemudian aku mengalami peristiwa yang hampir mustahil untuk kulupakan itu, kapal yang kutumpangi bersama bapak mengalami kebakaran di sekitar perairan Masalembo (lihat tulisan: Sekilas Ingatan Pada Kecelakaan Kapal Mustika Kencana Part I &II)  halahhh… Mungkin benar manusia punya potensi untuk selalu mendramatisir keadaan. Pengalaman itu contohnya, apa coba, itu hanya sepenggal kisah tentang beberapa saat dimana maut terasa begitu dekat. Memang kalau aku sampai mati kenapa? Setiap hari ada orang yang melanjutkan perjalanannya, setiap hari ada yang lahir dan ada yang mati, bila saat itu aku mati so what? dunia tetap beputar dengan segala keanehan yang dianggap normal ini, iya kan?

Tapi bukanlah soal kecelakaan kapal itu, namun kelegaan ketika bisa menikmati hidup lalu kemudian saat akan kembali ke Jogja,  perasaaan lega bukan saja karena akan bertemu dengan sahabat-sahabat di sini namun juga karena akan kembali pada sebuah tempat yang selalu membuatku nyaman. Aku masih ingat, detik-detik sebelum berangkat ke Jogja aku sempat menulis di twitter  “saatnya kembali ke petilasanku”. Tentu saja yang kumaksud disitu adalah kantin belakang tempatku biasa menghabiskan waktu seharian ditemani bu Seger yang cerewet dan Mbak Yam yang selalu ingin tahu dan selalu bertanya macam-macam hal padaku. Aku bukan orang yang serba tahu, tapi bagiku bila ada sebuah pertanyaan datang pada kita, maka itu berarti satu lagi tugas untuk menuntut ilmu yang harus dientaskan. Maka ditengah celoteh-celotehan Bu Seger dan pertanyaan-pertanyaan kepo Mbak yam itulah aku merasa bahwa kampus yang mendidikku justru bukanlah kampus UII yang terobsesi gila-gilaan dengan gelar akreditasi. Tapi justru kantin belakang, adalah tempat nongkrong yang syahdu,  adalah goa pertapaan yang gaul dan kampus yang mengenyangkan (disamping tempat menumpuknya utang makan, minum dan rokok)

Lalu kemudian muncullah kasus itu. Yah, tidak diduga memang. jujur saja malas rasanya menjelaskan awal mula kasus kantin itu terjadi.

Kemudian kita berkumpul, segala daya, dana, tenaga, waktu dan fikiran selama setahun. Itu anak-anak yang akhirnya dikenal dengan #SaveKantinPsi. Setahun kawan-kawan. cukup untuk seekor bayi yang baru lahir kemudian tumbuh untuk menjadi anak yang mulai bisa berjalan. Yup, setahun berjalan dengan putus asa ditengah ketidak perdulian, setahun berjumpalitan, jengkang-jengking, begadang, edit bulletin, patungan, bikin acara dan segala macamnya. Kemudian kita sampai pada titik puncak, hasil yang tak terbantahkan: Ibu-ibu kantin tak bisa lagi kembali di tempat mereka berdagang semestinya.

Baiknya sampai sini kita menghirup jeda sejenak dan mencoba menertawakan apa yang disebut nasib buruk

Gagalkah kita? Sia-siakah?

Yah sebenarnya aku merasa telah gagal, tapi apakah itu sia-sia? Aku rasa tidak ada yang sia-sia. Satu tahun yang kita lewati ini, muai membuatku tersadar akan apa yang sebenarnya ada dibalik tembok-tembok megah UII. Karena aku bukan penganut organisasi apapun di kampus ini, bahkan aku lebih sering muak melihat aktivis-aktivis sok sibuk yang kerjanya rapt-rapatan melulu, maka aku jarang sekali berada dalam situasi dimana aku harus berhadapan dengan dekanat dan rektorat. Setahun, bagiku pribadi adalah pelajaran, membuka mata dengan sedikiit saja lebih jernih dari sebelumnya untuk menyadari bahwa ternyata Islam di UII hanyalah pencitraaan. Karena Islam mayoritas, maka universitas berlabel Islam mustinya akan sangat laris dipasaran para konsumen,  dalam hal ini yang disebut konsumen adalah para calon mahasiswa dan orang tuanya tentu saja.

Kita semua pasti tahu siapa itu Dasamuka atau dikenal juga dengan nama Rahwana, dia adalah makhluk immortal, tak kan bisa mati karena memang itulah haknya. Hanoman si Kethek Putih, ksatria budi luhur itu tak pernah membunuhnya. Hanoman yang saat tuanya dikenal dengan nama Rsi Kapiworo itu hanya berhasil menimbunnya. Mengubur jasad Rahwana, memendamnya jauh di alam bawah sadar peradaban. Tapi Rahwana tetap hidup, dari alam bawah sadar sana dia lebih kuasa dari sebelum-sebelumnya. Kemenangan Prabu Rama dari Ayodhya adalah kemenangan semu, sebagaimana semunya Islam UII yang dibalik temboknya tetap mengintai mental-mental Dasamuka.

Tapi sudahlah, biarkanlah berjalan apa adanya saja. Mereka yang ada di sana toh pasti pernah merasakan usia seperti aku, usia-usia dimana ketidak terimaan menggelegak begitu gelora. Konon, usia dua puluh-an adalah usianya orang idealis, yah seperti yang digambarkan Bang Rhoma dalam lagu “Darah Muda”.  Biarkanlah kita dianggap idealis kekanak-kanakan, toh mungkin memang begitu adanya.

Entah apa sebenarnya yang ingin kusampaikan lewat tulisan ini, keahlianku dalam menulis sepertinya terbatas pada mendramatisir kondisi dan menghujat sana-sini. Tapi disamping itu, aku ingin mengapresiasi apa yang telah dilakukan geng #SaveKantinPsi ini; aku angkat topi untuk kalian kawan-kawan, salute!

setelah segalanya, yang ada tinggallah hikmah

Merugilah kita bila tidak mengambil pelajaran dari perjalanan mengarungi setahun penuh badai dan gelombang ini.

Bahwa sesungguhnya dimanapun kita berada, mental picik itu selalu mengintai. Kita bisa menjadi sama buruknya atau bahkan lebih buruk dari mereka yang kita hadapi selama setahun ini. Ingatlah baik-baik sobat, setahun ini kita pernah berhadapan dengan siapa saja. Ingat! dan jangan pernah lupakan, forgiven not forgotten.  Ada yang kita hadapi orang yang ritual ibadahnya sangat hebat tapi lemah berhadapan dengan kekuasaan,  yang dengan mudahnya menyarankan kita untuk bersabar. Cih! kesabaran yang dhzolim. Karena mungkin dia pikir mendapatkan ketenangan batin dari ritul biadah, wirid dan dzikir adalah jaminan bagi dirinya untuk menjadi orang baik. Ingat juga, kita pernah berhadapan dengan orang yang mantan aktivis paling sangar, berkata  “saya pernah seperti kalian!”  hah!? lelucon konyol yang diulang di setiap zaman.  Oh iya, tak lupakan kita, ada juga orang yang pernah dengan jumawa bicara di depan kita “kalian jangan ceramahi saya! saya itu ustadz!” waahhh…. padahal saya belum pernah dengar ada larangan untuk menceramahi seorang ustadz.

Begitulah kawan-kawan, kita sampai di sini kita sampai di zaman ini, kita sampai di peradaban ini. Ini adalah peradaban dimana kita tidak lagi bisa menilai baik-buruk, halal-haram dengan sesederhana membedakan hitam putih.  Mencuri memang perbuatan tercela, tapi di zaman ini apakah kita masih bisa membedakan seorang pencuri dengan polisi yang makan uang hasil tilang? Kupikir itu semacam yang terjadi di kampus UII ini, masih bisakah kita berfikir bahwa menjadi bagian dari institusi berkedok islam adalah pendapatan yang halal?

Itu baru seputaran kampus dan itu baru UII. Tapi setiap tahun, ribuan lulusan universitas dari berbagai penjuru mata angin berbondong-bondong, mendaftar dan dengan bangga merendah-rendahkan dirinya di depan ujian test masuk perusahan-perusahaan yang tidak mereka telusuri apakah pendapatan perusahaan itu didapatkan secra baik-baik atau tidak, merusak alamkah? terlibat ini itu? dan segala macamnya, atau bila dikembalikan dari segi keagamaan, apakah lulusan-lulusan itu masih menelusuri halal-haramnya pendapatan perusahaan tempat mereka merunduk-runduk, menghamba dan merendahkan martabat mereka sendiri? Setauku universitas cukup bangga bila mahasiswa-mahasiswanya diterima di perusahaan-perusahaan raksasa apalagi yang multi-naasional, walaupun perusahaan-perusahaan itu memberi dampak negatif bagi alam sekitar dan lingkungan sosialnya. Bukankah terlalu banyak ilmu yang kita pelajari, hanya kita gunakan untuk membenar-benarkan sikap dan tindakan kita dan bukannya untuk menjadi bahan muhasabah atau introspeksi kebusukan dalam diri?

Ah, aku ngelantur lagi, menghujat lagi, benar-benar kebiasaan buruk yang menyenangkan. Jadi maksudku begini, aku ingin kita tetap mengingat orang-orang yang pernah kita hadapi itu kawan-kawan. Bukan untuk mendendam, tapi untuk satu keinginan bahwa kita tidak akan pernah mau menjadi orang yang selemah, sepicik dan selicik mereka. Bagiku sama saja, mereka yang ada di sana itu yang di dekanat, di rektorat, yang terlibat maupun yang tahu tapi tidak mau melakukan apa-apa.

Kawan-kawan, kita gagal. Terimalah, kita gagal dalam memperjuangkan kembalinya ibu-ibu kantin. Tapi kegagalan tidaklah membuat kita ini kalah dan lemah. Sebaliknya, aku percaya bahwa kalian semua adalah orang-orang yang hebat dan kuat. Setelah ini kita akan menghadapi dunia sendiri-sendiri, terserap dalam bentuk-bentuk institusi-institusi lain, mungkin. Diamanapun kalian nantinya, menjadi apapun kalian jangan pernah lupakan yang kita lakukan di sini. Dengan itu aku harap, kita semua menjadi berbeda dari mereka yang sekedar masuk dalam bentuk-bentuk institusi dan perusahaan-perusahaan besar dengan mental komprador dan oportunis.  Suatu saat bila kalian mempunyai bentuk-bentuk usaha sendiri, setidaknya kalian punya tau sikap macam apa yang musti dihindari agar tidak menjadi seperti yang kita hadapi selama ini.

 

@zuriat_fadi

di celah dinding zaman

Lama juga tidak mengisi blog ini, sayang rasanya. Entah karena waktu kurang melonggar atau aku sendiri yang tersesak oleh hiruk pikuk dunia hingga tak punya waktu untuk bermimpi, entahlah…

Ada juga kesibukan ini, bergabung dengan anak-anak kampus untuk memprotes kebijakan yang dengan semena-mena menutup kantin hingga ibu-ibu kantin kehilangan pendapatan. Istilah kerennya sich; memperjuangkan. Entahlah…

Kita sampai di zaman ini, dimana kepedulian sangat mahal harganya dan keikhlasan selalu dicurigai. Manusia sudah begitu kehilangan kepercayaan pada nilai-nilai mendasar kemanusiaan itu sendiri sehingga kebaikan yang tak berpamrih adalah hal yang aneh dan tidak masuk diakal. Kebaikan rupanya, sudah semakin langka dan antik.

Namun begitu, ada hal baik juga yang kulihat dari sini. Semoga aku tak salah, namun diantara sempitnya tebing-tebing peradaban ini, cahaya kesejatian toh ternyata masih dapat juga menelusup mencari-cari para perindu.

Aku lihat dizaman kita ini kawan, kebaikan masih terus bermanifestasi dalam bentuk-bentuk paling sederhana. Kecil-kecil, seserpih namun ya tetap kilap kilaunya. Sebab sesederhana apapun pilihan kebaikan kita, akan menghadapi terjangan dan akan diombang ambingkan oleh badai zaman ini. Maka, pilih satu saja, sedikit saja nilai yang kita imani, kita percayai maka aku yakin bahwa Allah akan menghitung hal tersebut sebagai thoriqoh kita. Laku keikhlasan dalam mengarungi zaman edan edanan.

Semilir angin bertiup menyejukkan batin, menyemilir kan doa yang terucap dalam sanubari
“Ya Allah, janganlah kau cabut rasa imanku kepadaMu dan jangan kau ambil rasa percayaku pada kebaikan yang Kau turunkan di bumiMu ini.
Ilaahii, di zaman ini aku sungguh tak bisa menggantungkan diri pada perasaanku, pikiranku, harta serta segala macam ajian kesaktianku. Hanya kepadaMu ya Rab, hanya kepadaMu kuserahkan segala kedirianku, egoku… Dan kupasrahkan jalanku, menurut jalan yang Engkau pilihkan untukku”

duh, rindu bertalu-talu dalam detak waktu…

MANIFESTO IDIOTLOGY (masih kasar, perlu diampalas)

Manifesto ini ditulis, diusulkan, diperbincangkan, ditandatangani, dibaca, disetujui dan ditolak serta ditidak setujui oleh orang-orang bodoh dan idiot. Karenanya manifesto ini tidak bisa salah dan tidak bisa menyakiti siapapun, kami kan bodoh.

bahwa kami merasa sudah saatnya kami; orang-orang idiot, bodoh, tolol dan goblok seluruh dunia menyatakan sikap kami. Bahwa melihat keadaan duni yang selalu dipengang dan dikendalikan oleh orang-orang pintar, cerdas dan jenius ternyata tak membawa perubahan apa-apa ke arah yang lebih baik. Menimbang juga bahwa, belakangan peradaban kita, toh kamorang semua pada rebutan pengakuan dengan berbagai latar ideology maka kami pun merasa pantas jugalah untuk ikut dalam kancah cari perhatian dunia macam itu, kami sudah lihat orang-orang aneh yang kerjanya cuma cari berita itu menggaung-gaungkan kebebasan Pers dimana-mana, lalu kumpulan perempuan-perempuan menyerukan kesetaraan, maka kami pun merasa tak ingin ketinggalan juga ikut membuat tuntutan-tuntutan semacam itu. Soal kebebasan dan kesetaraaan, karena kedengaran keren juga.

Maka inilah isi manifesto yang juga tuntutan ini, salah benar harap dimaklumi, namanya juga orang bego:

  1. Nah gini lho, kami orang bodoh seduni sudah muak dengan pertarungan-pertarungan ideology ala orang cerdas, konspirasi kaum pinter dan ilmu-ilmu pengetahuan orang-orang jenius. Kami ngerasa, kami sebagai manusia biasa juga berhak untuk ikut andil dalam mengatur arah perjalanan dunia dan peradabannya. Sebagaimana yang kita semua juga sudah mafhum, bahwa biasanya orang-orang mau ikut andil dalam sikap politik semacam ini adalah agar bisa menaikkan orang-orang golongannya sendiri maka begitupun kami menuntut agar orang-orang bodoh juga bisa menduduki jabatan-jabatan public dan non public.
  2. Mengenai keterwakilan suara, kami sebenarnya sudah sangat diwakili oleh orang-orang banyak. Berapa banyak orang  dari golongan kami yang tulisannya memenuhi media-media, yang tulisannya penuh dengan omong kosong yang dibungkus bahasa njelimet, itu adalah wakil kami. Lihatlah presiden anda, wakil rakyat anda, gubernur dan seluruh pejabat.  Hamper seluruhnya itu adalah dari golongan kami, namun karena mereka dididik oleh orang-orang pinter, lalu mereka belajar untuk menyangkal bahwa mereka adalah golongan kami; ORANG-ORANG BODOH. Berbeda dari mereka, kami setidaknya adalah orang-orang bodoh yang berkomitmen pada kejujuran, integritas, setia kawan dan pencinta lawan jenis.
  3. Janga mengira bahwa orang-orang bodoh seperti kami tidak produktif. Salah satu peninggalan sejarah kami adalah upacara tamat kuliah yng disebut oleh orang-orang pinter sebagai wisuda. Sampai saat ini itu lah produk unggulan kami ang belum tertandingi kebodohannya. Berapa ribu orang tiap tahunnya antri hanya untuk membenarkan letak tali di topi yang tak berguna sama sekali? Kebodohan tak menghalangi kami untuk membodohi, tapi kami tak kan memperdayai manusia lain seperti orang-orang cerdas.
  4. Kami sebagai orang-orang bodoh, berhak untuk ngomong ndak nyambung, ngelantur dan  ngasal. Tapi kami tidak akan menjadi golongan yang lebay seperti wartawan seluruh dunia dan munafik seperti politikus,kami tidak ingin menjadi seperti ideology demokrasi yang munafik dan hipokrit, tidak juga seperti golongan proletariat karena keliatannya terlalu sangar, dan juga kami bukan orang-orang lemah yang musti berlindung pada PBB apalagi konsep-konsep HAM yang mendayu-dayu itu. Kami berlindung pada Tuhan Smesta Alam, krena kami yakin Tuhan sayang pada kami.
  5. Maka bersatulah kaum bodoh sedunia, karena sesungguhnya kalian sudah memegang tampuk dunia sejak lama. Kebodohan tidak menutup hati kami dari kepedulian pada sesama, kebodohan tidak menghalangi jiwa kami dari cinta kasih…..

 

Dengan ini kami orang-orang bodoh tolol imut jelek,  idiot, goblok, tolo, bego dan apapun sebutannya itu menyatakan hidup kami merdeka. Kami merdeka dari sakit hati, karena kami terlalu bodoh untuk bisa sakit hati. Kami merdeka dari penindasan karena kami terlalu tolol untuk bisa ditindas, kami tak tunduk pada satu Negara, karena kami akan pindah ke Negara mana saja yang kami suka, kami menolak masuk surganya tuhan orang-orang jenius, kami juga tidak mau masuk neraka kalian pokoknya kami akan membuat surge dan neraka versi kami sendiri yang isinya dengan standarisasi yang ditetapkan oleh orang-orang bodoh juga. Kami merdeka juga dari rasa ingin merdeka. Kami merdeka untuk selamanya menjadi tolol…..

 

Ttd
ORANG BODOH

(sekilas ingatan pada kebakaran kapal Mustika Kencana 2) part II: URIP MUNG MAMPIR UDUTAN

 lanjutan dari: http://www.facebook.com/profile.php?id=1235304996#!/note.php?note_id=10150239051732393

 

Dan ya! Ini adalah hal yang paling tidak diinginkan ditengah lautan. Berada dalam lifecraft yang tergenang air laut saja cukup membuat kami sulit bertahan, apalagi lifecraftnya tenggelam, itu berarti kami harus bertahan dengan tenaga sendiri selama rentang waktu yang tidak menentu. Tanpa perlu menunggu lama, lifecraft kami sudah menjadi setumpukan karet yang berat dan mulai masuk kelelep kedalam air. Pria yang bersama istri dan anaknya tadi lantas bilang “Semuanya jangan mencar! Pegangan tangan!!!” kami pun saling berangkulan, posisi kami sudah mengapung dilaut.  Saya mendongak ke atas, matahari bersinar, hal ini membuat saya agak heran juga karena waktu di kapal tadi saya perkirakan awan hitam akan datang membawa hujan dan bahkan mungkin… badai!

 

Tak lama kemudian sesuatu muncul dari laut, tepat dibawah saya dengan bunyi “”bloopppp…” ternyata lifecraft itu masih bias mengembang lagi asal kena sinar matahari, perlahan lifecraft mulai mengembang dan muncul sedikit demi sedikit di permukaaan. Spontan kami mendongak ke atas, sepertinya tidak pernah kami benar-benar merindukan sinar matahari seperti hari itu. Sinar matahari tiba-tiba menjadi barang mewah yang akan kami bayar berapapun yang kami bisa asal dia mau bersinar terus.  Posisi saya tepat berada di tengah lifecraft yang sedang mengembang, awalnya lifecraft menggelembung dengan sangat cepat namun ketika lifecraft itu sudah mengembang sebesar sekitar empat biji bantal guling, lifecraft berhenti mengembang dan memompa dirinya. Saya tengok kembali ke langit, ternyata matahari tertutup oleh segumpal awan hitam, kecil awan hitam itu tapi posisinya tepat menutupi sinar matahari. Kami, para lelaki yang tadi sempat berada di atas lifecraft langsung turun dan menaikkan seorang anak kecil (saya juga bingung, sejak kapan anak itu ikut kami) serta ibu yang tadi kehilangan anaknya dan putrinya yang seperkiraan saya mungkin masih sekitar kelas5-6 SD.

 

Selain mereka, seingat saya dalam lifecraft yang tinggal seperempat saja itu, ada juga sepasang pria dan wanita yang menurut hemat saya sepertinya pengantin baru atau bahkan mungkin hanya pasangan pacaran  –sebab usia pasangan ini sepertinya masih sangat muda –  lalu ada sekitar lima orang pria dan saya serta ayah saya. Berarti dalam lifecraft yang sekarang tinggal menjadi pelampung bersama ini, ada lebih dari sepuluh orang. Sementara lifecraft entah kenapa tidak mengembang lagi. Kondisi kami saat itu mengelilingi lifecraft, berpegangan sambil setengah berenang. Si ibu, anaknya dan anak kecil yang di atas lifecraft tetap terendam sampai  batas dada. Anak kecil masih sambil digendong oleh seorang pria, saya tidak tahu apakah dia ayahnya atau bukan, namun herannya anak kecil ini, yang mungkin berusia sekitar3-4 tahun, tidak menangis! dia hanya diam saja sehingga tidak ada yang terepotkan kecuali ya, Pria yang menggendongnya sambil berenang itu.

 

Entah berapa lama, kami mengambang seperti itu.  Maka disebut-sebutlah kembali nama-nama Tuhan Yang Maha Kuasa, disebut dengan beragam cara sesuai yang diketahui masing-masing dari kami. Ayah saya mendekat pada saya lalu bilang “dzikir, terus berdzikir” Lalu saya ingat di dalam tas laptop saya ada tasbih. Saya ambil dan saya kembali berdzikir sambil membulirkan biji-biji tasbih. Sebenarnya tak perlu juga saya pakai tasbih, dalam keadaan seperti itu tak ada niatan juga mau menghitung berapa kali dzikir yang terucap oleh mulut namun karena tasbih itu biasanya menemani saya sebelum tidur, entah kenapa saya merasa agak tenang bila menggenggamnya.

 

Masih tak tau juga, berapa lama kami dilautan lepas itu. Sementara matahari semakin terik (dan sayangnya tidak lagi berefek apa-apa pada lifecraft, air laut malah makin terasa dingin di tubuh. Kulit mulai mengkerut, bibir bergetar, lemas dan sudah tak jelas kalimat apa yang keluar dari mulut. Dalam pikir, saya ingin mengucapkan “hasbunallah wa ni’mal wakiil ni’mal mawla wa ni’man natsir” tapi yang terdengar dari bibir yang gemetaran ini cuma “awoohh…. awooohh” sempat seseorang bilang “ADA KAPAL!!!” tubuh saya yang lemas langsung bersemangat, mencoba meninggikan kepala dan melihat ke sekeliling namun selain asap dari kejauhan, tak ada apa-apa. Salah lihat ternyata dia, sial!

 

Lalu seorang pria berseru kembali tak lama kemudian “itu ada kapal!!!” kami mencari-cari namun tak ada “Mana???” pria itu menjawab “itu lho, kapal kita yang tadi kebakar” lalu dari ucapan dzikir, semuanya beralih mengumpat-ngumpat orang itu. Tapi sebenarnya informasi dari Mas ini berguna juga, karena memang tiba-tiba kapal Mustika Kencana 2 yang sedang terbakar itu kelihatan jelas dari tempat kami mengapung, itu bisa dikarenakan kapal yang masih jalan atau karena kami mengambang justru mengarah ke kapal kagi.

 

Masih menunggu, masih menunggu di lautan luas, kondisi tubuh kami semakin lemas. Lemas, tubuh bergetar hebat, berbicara pun semakin susah bahkan beberapa orang sudah mulai muntah-muntah. Namun ayah saya sempat mengeluarkan bungkusan apel  dari tas ranselnya, apel itupun mengapung. Kami bagi satu-satu, sementara apel lain terlepas ikatannya dan mengapung  disekeliling kami. Namun saya tidak begitu berselera, eh Mas yang diseblah saya dengan wajah lugunya mengambil apel yang mengapung dan mengantongi beberapa. Ketika saya menoleh padanya dia malah memasang tampang malu-malu. Aduh duhh…. Kita ini memang bangsa yang benar-benar pemalu, ingin saya katakana pada Mas itu “sudahlah Mas, ambil aja, ndak apa-apa koq ” tapi mulut saya sudah ndak bisa bicara lagi.

Sementara itu, kaki saya sudah keram. Sudah tidak bias digerakkan lagi,  sandal saya ternyata lepas dan mengapung-ngapung.

Ayah saya mengambil sandal saya yang tinggal seblah dan ngomong

“ini, pake sendalnya”

APA-APAAN???!!!!!

Ayah saya memang terkenal sangat disiplin soal waktu dan kerapihan, tapi ya ampun di tengah laut gini masih sempat merhatiin sendal? Plis deh Pak…..

 

Tapi sebenarnya saran untuk tetap mengenakan sandal itu saya fahami sebagai usaha untuk mengantisipasi bila ada hiu. Hiu akan langsung mengincar kaki manusia yang berada di laut, karena kulit manusia terlihat cerah di dalam air. Bila mengenakan sepatu, itu akan meminimalisir risiko diserang oleh hiu. Namun entah musti bersyukur atau  gimana, memang kami tidak sempat diserang hiu tapi tiba-tiba beberapa orang menjerit kesakitan, satu-satu bergantian mereka menjerit-jerit.

Ternyata disekeliling kami terdapat banyak ubur-ubur yang menyengat itu. Kamippun kembali panik, tapi terus saja ada yang terkena sengatannya. Ubur-ubur….. saya lalu teringat Spongebob (serius ini, sumpah!), hmmmm… bagaimana Spongebob bisa bersahabat dengan ubur-ubur dan tidak pernah disengat sementara Squitworth selalu disengat? Lama saya berpikir lalu saya ingat…. SPONGE BOB KAN SPONS BUSA!!! Mana bisa dia disengat listrik???!!!!

 

Akh! Fuck Sponge Bob!

 

Selintas saya teringat ucapan kiai saya, dulu beliau pernah berkata“Hewan itu ummatnya Nabi Sulaiman, kirim fatihah ke Nabi Sulaeman” Maka sayapun membaca alfatihah yang diniatkan untuk Kanjeng Nabi Sulaeman. Entah karena alhatihah nya atau mungkin ubur-uburnya juga udah bosan menyengat kami yang rasanya ndak gitu enak-enak amat dan kurang gizi karena belum sempat sarapan, rombongan ubur-ubur itu mulai menyingkir. Hanya sesekali saja kami disengat, tapi tidak sesering saat rombongan ubur-ubur itu dating pertama kali tadi.

 

Di kejauhan, ada yang melontarkan tanda S.O.S yang seperti petasan itu. Semua berharap semoga ada yang melihat. Lalu satu tanda S.O.S lagi dilontarkan, harapan kembali…..

 

Namun masa kritis tidak berlalu begitu saja, sengatan ubur-ubur memang semakin jarang, namun kondisi badan kami semakin tak berdaya. Semua orang menggigil, sesaat saya pejamkan mata.

 

Tiba-tiba seperti wajah-wajah orang-orang yang pernah saya kenal  berkelebat begitu saja.  Keberhasilan dan kegagalan yang pernah saya alami juga melintas dalam ingatan, namun anehnya semua pencapaian dan kegagalan hidup saat itu terasa tidak begitu benar-benar berarti.  Saya hanya ingin sekali melihat wajah orang-orang yang saya kenal itu tersenyum. Percayalah, semua wajah yang berkelebat itu sedang tersenyum. Dalam keadaan seperti ini bahkan orang yang pernah menyakitipun akan muncul dihadapanmu dan semuanya tersenyum ramah.

 

Dan tentu saja, ingatan saya pada sebatang rokok. Menghisap sebatang rokok, hmmm… pasti nikmat sekali raanya bukankah ‘urip mung mampir udutan?’ (hidup hanya mampir buat ngerokok) dan….. eh?! Rokok!???  Tiba-tiba saya terbangun…. Saya baru ingat, ada dua bungkus rokok yang plastiknya belum dibuka dalam kantong celana saya. Saya raba, saya cari namun sudah tidak ada (sekarang baru mikir, emang kalo ada mo ngapain? Emang ada korek di tengah laut?) Ternyata saya sudah lama juga tidak sadarkan diri, sekarang orang-orang ini sedang sibuk ingin membalik posisi lifecraft kami namun karena karetnya yang berat itu ditambah kondisi tubuh yang lemas usaha itu tetap sia-sia (ternyata sejak awal posisi lifecraft ini memang terbalik).

 

Lama-kelamaan, bahu dan kaki saya rasanya semakin keram. Tasbih yang sejak tadi saya pegang sudah raib entah kemana. Karena tidak kuat lagi, akhirnya tas laptop saya lepas. Tas laptop pun lenyap sudah ditelan lautan lepas.

Lama kami berusaha lagi untuk membalikkan lifecraft itu, namun tidak juga berhasil. Justru yang ada badan semakin lemas, mata saya kembali terpejam. Seorang diseblah saya mengguncang-guncang tubuh saya “Mas, jangan tertidur” Saya terbangun, tetapi rasanya mata saya kembali memejam. Bibir sudah gemetar, badan dan kaki sudah keram. Sementara itu, ombak sudah mulai membesar, kami yang semakin lemas ini malah timbul-tenggelam kayak teh  celup di tengah laut. Air laut sudah tertelan banyak, mual.

 

Samar-samar, saya dengar “itu kapal..! itu kapalll…!!!!” saya sudah tidak bisa perduli, terutama karena yang tadi-tadi seruan seperti itu hanya tipuan. Tapi kali ini memang, saya mendengar suara deru mesin kapal….

 

Dan harapan datang, semangat pun kembali, seorang pria kami suruh naik dan berdiri di lifecraft untuk memberi kode. Peluit-peluit dari  baju pelampung ditiup (ternyata tidak semua baju pelampung ada peluitnya, di rombongan kami hanya ada tiga yang dapat) lambat tapi pasti, kapal itu mengarah pada kami. Sungguh, rasanya lambaat sekali. Tapi akhirnya kapal itu tiba juga, ternyata sebuah kapal nelayan Madura (melihat corak dan warna kapal dan tentu saja logat nelayannya)

 

Beberapa orang -juga ayah saya- langsung berenang kea rah perahu nelayan, ini keputusan berani juga sebenarnya. Pertama karena jarak kapal itu tidak begitu dekat dan kedua, ombak sudah semakin meninggi. Tapi mereka berhasil sampai ke perahu dan langsung naik, sementara ada seorang pria di atas perahu nelayan itu yang memegang handy talky bilang “Pak pak, tetap disini dulu ya… jangan kemana-mana (sewot gw: LU PIKIR KAMI BISA KEMANA??) ini kami bawa dulu nanti bapak-bapak ikut kapal yang selanjutnya, tenang saja ada kapal lagi koq”

 

Namun kau tahu, di negri ini sekali kau menyelamatkan segolongan orang maka kau tak kan dilepas begitu saja sampai semuanya ikut terselamatkan atauy kau juga ikut tenggelam.

 

Saat perahu nelayan itu mulai menjauh, orang-orang di lifecraft berteriak “Paaaakkk… ini ada anak kecil paaaakkkk…. Tolong paakkkk…o kodoonng mau mi mati ini anak e” (logat Makassar) aksi ini sangat teatrikal, didukung ekspresi yang meyakinkan dan property acting yang sangat mendukung;  ya anak kecil itu.

 

Bapak Nelayan Madura langsung menghentikan laju kapal, bapak dengan handy talky marah-marah

 

“jalan pak!!!! Yang mereka nanti saja!!!!”

 

nelayan Madura bilang “ kasiian pak, itu ada anak keccil pak….”

 

Singkat cerita, kapal nelayan itu berbalik kea rah kami untuk menjemput si anak, namun begitu kapal nelayan cukup dekat

maka berebutanlah semua orang untuk naik ke kapal, keadaan rusuh,  kapal nelayan miring, pria dengan handy talky marah-marah….. Nelayan Madura: “addooo  pak, kapal sayya bissa tenggelam pak…. Addooo pak… ndak bissa kayak ginni pak”

 

Sementara keadaan semakin rusuh dan alot, saya putuskan untuk tidak ikut ke kapal nelayan dulu dan menunggu pertolongan berikutnya. Namun ayah saya yang sudah berada di kapal memanggil, saya julurkan tangan, sayapun berhasil naik ke atas kapal sementara pria dengan handy talky masih marah-marah dan nelayan Madura pemilik kapal ini memohon-mohon dengan dramatis. Namun saya salut pada tiga orang yang memutuskan tetap tinggal di lifecraft agar yang lain bias diselamatkan lebih dulu. Salute…

 

Begitu sampai di kapal nelayan, kami dibagikan air yang hanya seukuran sachetan, cuma seteguk air dan tenaga kembali segar. Saya ambil tas pakaian saya, semestinya di dalamnya ada beberapa oleh-oleh, namun ternyata isinya sudah kosong, ambyar semua di lautan. Saya ingat di dalamnya ada juga beberapa gantungan kunci dengan gambar logo kraton Ngayogyakartahadiningrat. Yah, mungkin juga nelayan Madura ini adalah keturunan Pangeran Cakraningrat yang pada era Sultan Agung Anyokrokusumo ditugaskan mengelola Pulau Madura yang sangat istimewa itu.

 

Kemudian kami dibawa ke kapal tongkang, awalnya saya kira ini kapal penyelamat, sampai saya liat di depannya ada rantai yang tersambung pada tak boat. Wajar bila saya pikir ini adalah kapal penyelamat, betapa tidak?  Chief kapalnya terlihat sangat keren dengan potongan rambut kayak Ekin Cheng, berkacamata hitam, tinggi besar. Lalu dengan sigap dia mengosongkan ruangan kru kapal untuk wanita dan anak-anak. Ini adalah sikap yang sangat tepat, wanita selalu punya kebutuhan yang tidak bisa diketahui sepenuhnya oleh pria. Memberi mereka ruangan untuk mengurus kebutuhan mereka itu benar-benar professional.

 

Dan bagi saya, pertolongan yang paling utama adalah sebatang rokok. Selesai melepas pakaian, menyiram tubuh dengan air tawar. Saya lalu ke ruang komando kapal tongkang, memasang wajah memelas dan “Pak, saya kedinginan….. ada rokok enggak?” lalu para kru kapal bahkan chief kapal itu menyodorkan semua rokok yang mereka punya, awalnya merk rokok tidak begitu masalah, namun ketika ada yang menyodorkan Gudang Garam Inter, saya langsung menyambarnya. Meminta korek, membakar dan menghisapnya, menyesapnya jauuuhhhhhh ke paru-paru ssssshhhh…..  lalu pppoooosssshhhh…..menghembuskan asapnya  sambil bergumam “ah, urip mung mampir udutan”

 

 

 

Setelah itu, nelayan Madura yang pada kahirnya berjumlah tiga perahu itu bolak-balik menyelamatkan korban-korban lain dan mengangkutnya ke kapal tongkang. Baru kami tahu saat itu sekitar pukul setengah sebelas. Selesai penyelamatan korban, kami lalu dipindah ke kapal pengiriman barang yang sudah mendekat, di kejauhan saya lihat ada sekitar dua-tiga kapal sejenis yang merapat ke lokasi kami. Ternyata sebelum terjun ke laut, kapten kapal sempat mengirim sinyal keadaan darurat.

 

Perjalanan dengan kapal peti kemas berlangsung hingga sekitar tengah malam. Awalnya, ketika para penumpang ditawari makan di kapal barang ini awalnya mereka masih malu-malu atau mungkin juga tidak begitu berselera makan karena masih trauma. Namun begitu hari menjelang sore, kelaparan menjadi-jadi. Maka rebutan makan pun tak terhindarkan. Untung kru kapal barang ini juga tidak keberatan berbagi jatah makan dengan kami, nasi dengan lauk garam menjadi barang yang sangat mewah untuk kami bertahan selama seharian di kapal peti kemas. Tidur bisa dimana saja, karena kapal peti kemas memang tidak menyediakan kamar yang cukup.

 

Sesaat tadi, waktu terapung di laut semua masalah kehidupan terasa begitu remehnya. Namun tidak butuh waktu lama bukan untuk manusia kembali meributkan rebutan makanan dan lainnya. Hanya saja, segala dinamika itu sekarang dihadapi dengan lebih enteng. Terbukti semua bisa tertawa kembali, ceria kembali dan bercanda-canda lagi. Bahkan yang tadinya tidak saling kenal sekarang menjadi saling kenal dengan mesra. Benarlah, urip mung mampir udutan koq.

Setelah mendekat ke Madura, sekitar pertengahan malam, kami dijemput oleh kapal ferry dari perusahaan Darma Lautan Utama, merekalah pemilik kapal Mustika Kencana 2 yang terbakar itu. Naik ke kapal ferry menuju Surabaya kembali, diiringi lambaian tangan para kru kapal peti kemas (o iya, nama kapal peti kemasnya K.M PEMUDI) Terima kasih kami yang begitu besar pada mereka-mereka yang menolong kami dengan tulus. Nelayan Madura, Kapal Tongkang beserta kru, dan kapal PEMUDI beserta seluruh awak kapalnya.

 

Sampai di kapal ferry perusahaan, sudah menyambut kami nasi bungkus dan air mineral yang langsung kami serbu.  Kami diberi selimut, sarung dlsb. Tenaga medis pun telah sigap. Minuman teh dan kopi tersedia. Tapi tentu saja yang sangat dibutuhkn oleh kami ini adalah: ROKOK.

 

Ini pelajaran buat mereka yang selanjutnya akan bekerja sebagai penyelamat professional, kita semua tahu bahwa ada beberapa penyakit yang datang justru karena adanya dokter bukan? Itu pula yang kami alami. Begitu tim medis mulai menanyakan keluhan-keluhan, barulah muncul  rasa sakit disekujur tubuh, kulit yang terasa panas dan…. Kelelahan.

Terakhir, bila anda suatu saat menjadi penyelamat dalam kasus-kasus seperti ini, siapkanlah rokok yang banyak.

Karena menurut pengalaman saya, akibat tidak disiapkannya rokok oleh fihak yang bertanggung jawab (dalam hal ini perusahaan Dharma Lautan Utama) maka yang menjadi korban adalah para awak kapal yang membawa rokok, kami serbu untuk kami ajak bercerita bahkan sebenarnya para  awak kapal malah menjadi tong sampah curhatan kami sambil kami mintai rokoknya .

 

“wah gila! gak nyangka saya bisa bertahan… Empat jam lho Mas… empat jaammm!!!! Makanya saya ni kedinginan klo gak ada rokok, punya rokok mas?”

 

Sementara yang lain bercerita

“jadi begini lho ceritanya Mas…. Wwuuuiiihh… waktu itu saya tu tueerrjjun ke laut Mas… eddiann pokokke….. ada rokok lagi Mas?”

 

Satu orang juga ngomong disaat bersamaan

“hooh Mas, ada juga itu ibu-ibu di duorong Mas sama suaminya, lha piye menneh to??? Rokoknya satu lagi donk Mas…”

 

Ah yaaa…. Urip mung mampir udutan.

Hasbunallah wa ni’mal wakiil nimal mawla wa ni’ma natsir….

%d bloggers like this: